Bili'u

A
Administrator
09 September 2026
Bili'u

Bili’u adalah busana adat kebesaran yang dipakai oleh pengantin wanita. Bili’u mengadung makna bahwa sang gadis jadi pengantin, diangkat dan dinobatkan sebagai Ratu Rumah Tangga. Bili’u terdiri dari: 1. Baya lo Boute: yaitu ikat kepala yang memberikan dua pengertian: Bahwa sang ratu telah terikat dengan satu tangung jawab. Bahwa segala hasil pemikiran berdasarkan pertimbangan kebijaksanaan yang matang, untuk kepentingan orang banyak. 2. Layi-layi: yaitu bulu unggas yang banyak diletakkan pada ikat kepala bagian depan, tepat di atas ubun-ubun. Bulu unggas dikiaskan pada kehalusan budi pekerti yang luhu sebagaimana kehalusan bulu unggas. Layi-layi diberi warna merah muda, dan putih yang melambangkan keberanian dan kesucian. 3. Ponge-Mopa: yaitu tangkai-tangkai berjumlah 6 buah. Diibaratkan pada 6 orang Bubato atau pemangku adat yang terdiri 1 orang Baate, 1 orang Tuntungiyo/Wu’u, serta 4 orang Kimahala (pelaksana adat). “Dalam pengertian pada busana Bili’u, bahwa sang ratu berkewajiban untuk selalu menerima pertimbangan-pertimbangan aparat bawahan,”. 4. Pangge (4 buah): yaitu tongkat sebanyak 4 buah yang menghiasi bagian belakang dari ikatan kepala. Pangge mengartikan bahwa Sang Ratu berkewajiban untuk selalu menerima pertimbangan-pertimbangan aparat bawahan. 5. Tutuhi (tuhi-tuhi): yaitu galah sebanyak 7 buah yang panjangnya lebih besar dari yang lain. Tuhi-tuhi diibaratkan pada 2 kerajaan, yaitu “Hulontalo-Limutu, dan Limutu-Hulontalo”, serta lima kesatuan kerajaan. Yaitu Kerajaan Tuwawa (Suwawa); Kerajaan Limutu; Kerajaan Hulontalo; Kerajaan Bungalo; serta Kerajaan Atinggola. 6. Huli, yang artinya belakang. Yaitu hiasan yang disematkan pada bagian dari Bili’u, dan terdiri dari dua tangkai daun-daunan dan ditancapkan pada ujung kiri-kanan dari baalanga (rangka). “Huli diibaratkan pada dua jalur aparat adat yaitu pegawai syara’ dan Talenga (satuan pahlawan keamanan), Pulubala di Limboto,” 7. Duungo-Bitila yang artinya daun bitila (sukun). Sehelai daun bitila yang terbuat dari sepuhan emas tertancap pada baalanga bagian belakang. Hal itu bermakna pengayoman sang ratu terhadap rakyat. 8. Huwo’o yang artinya rambut, bentuknya terpotong-potong menjadi lima bagian yang dihubungkan oleh rantai antara satu dengan yang lain. Dalam penobatan ratu zaman dahulu biasanya memakai 7 potong atu 7 susun. “Adapun lima bagian yang dipakai sekarang ini diambil dari dua pengertian keharusan seorang Ratu untuk bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pengertian pertama dari lima suku kata Tauhid. Pengertian kedua dari lima rukun Islam”. 9. Taya, artinya timbangan atau dacing yang biasa juga disebut “Titimenga”. Dipasang pada kiri kanan bagian depan di samping mata. Pengertiannya bahwa sang Ratu harus berlaku adil. 10. Rumbai-rumbai yang menghiasi baya lo bo’ute, menggambarkan harapan rakyat pada pertimbangan kebijaksaan sang Ratu. 11. Bo’o Tunggohu yaitu baju kurung. Biasa juga disebut Bo’o Galenggo. Terdapat bagian-bagian yang menghias/menyempurnakan pada baju ini. yaitu: 1.) Kucubu Lo Duhelo, yaitu hiasan dada yang melapisi Bo’o Tunggohu, sebagai pembalut dada. Hiasan ini bermakna bahwa sang ratu dalam memimpin pemerintahan, harus dapat menahan nafsu amarah. Hiasan-hiasan berbentuk bintang dari emas, bermakna pancaran sinar kasih sayang, dan cinta kepada rakyat dan negeri. 2.) Kucubu Lo Ulu’u, yang disebut Petu, yang membalut ujung lengan baju yang bermakna dari tangan sang Ratu akan terwujud karya-karya yang bermanfaat bagi orang banyak. 3). Pateda, atau gelang-gelang lebar yang menghiasi lengan tangan sang Ratu, bermakna sang Ratu menjauhi tindakan-tindakan yang menyusahkan rakyat, termasuk menerima sogokan, atau menerima hasil tadahan. 4.) Wulu Wawu Dehu artinya kalung bersusun, yang bermakna peringatan kepada sang Ratu, bahwa perbuatan yang terlarang, maka sanksinya adalah tiang gantungan, dengan tali lilitan sebagaimana lilitan kalungnya. Kalung ini disebut juga Bu’ohu. 5.) Lu’ohu atau Kula: sejenis cincin, yang hanya dipakai pada jari manis dan kelinking pada kedua belah tangan kiri dan kanan. “Pada jari manis bermakna adalah budi pekerti yang baik. Sementara pada jari kelingking adalah memerhatikan kepentingan rakyat kecil.” Sumber : - Ishak Bumulo ( Wawancara, 8 Oktober 2020, Umur 65 Tahun, Pekerjaan Sebagai Pemangku Adat). - HI. Medi botutihe. Parha daulima.2003. Tata Upacara Adat Gorontalo. Gorontalo

Komentar & Diskusi

0 tanggapan

Sampaikan pandangan atau pertanyaan resmi terkait publikasi ini.

Belum ada komentar pada konten ini.

Jadilah yang pertama untuk memberikan tanggapan atau pertanyaan resmi melalui formulir di bawah ini.

Tulis Komentar

Semua komentar akan melewati tahap moderasi operator resmi sebelum ditampilkan.

Email Anda dirahasiakan dan tidak dipublikasikan.

0 / 2000
Dilindungi sistem verifikasi & moderasi operator resmi.

Informasi lainnya yang relevan untuk Anda

Lihat Seluruhnya