Etnografi
Imported from master_kategoris#11
1 SET TEMPAT ROKOK
1 SET TEMPAT ROKOK
Alat Pemintal (Titinggola)
Alat untuk memintal
Alat Sulam Karawo
Peralatan yang digunakan dalam menyulam karawo yaitu gunting, jarum, silet, centimeter dan...
Aliyawo
Sejenis parang dengan pandungo bermotif ular yang bermakna bahwa senjata ini berbahaya sep...
Ayunan Bayi / Lulunggela
Saat Jepang masih menjajah Indonesia, rata-rata perempuan di Gorontalo menenun sendiri ka...
Badi
Sejenis keris dengan mata besi berpunggung rata, bagian perutnya cembung dan tajam serta u...
Baju adat Mohuntingo (Aqiqah/Gunting Rambut)
Baju adat yang digunakan anak-anak (bayi) pada saat acara adat Mohuntingo (Aqiqah). Mohun...
Baju Adat Molihu lo Limu (Mandi Lemon)
Baju adat yang digunakan oleh anak perempuan saat acara adat Mopolihu lo Limu (Mandi Lemon...
Baju Adat Payunga
-
Baju Adat Wolimomo
-
Baju Adat Wolimomo Merah
-
Baju Takowa
Baju takowa yang biasanya digunakan oleh pemangku adat dan laki-laki di acara adat Goronta...
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Alat Pemintal (Titinggola)
Deskripsi / Informasi
Alat untuk memintal
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Alat Sulam Karawo
Deskripsi / Informasi
Peralatan yang digunakan dalam menyulam karawo yaitu gunting, jarum, silet, centimeter dan pamendangan, sedangkan bahannya yaitu kain, benang jahit, benang bordir dan benang emas. Dalam proses pembuatan karawo terdiri atas 3 tahap yaitu iris dan cabut benang, menyulam dan finishing. Proses iris dan cabut benang adalah membentuk batas dan merencanakan luas bidang yang akan diisi dengan karawo berdasarkan pola gambar yang ada. Proses menyulam adalah mengisi benang sesuai arah jalur benang, sedangkan tahap finishing adalah melilit jalur-jalur benang dengan satu kali lilitan untuk memperkuat jalur benang yang tidak disulam sehingga hasil akhir sulaman rapi. Ada 2 jenis karawo yaitu karawo manila dan karawo ikat. Karawo manila dibuat dengan teknik mengisi benang sulam secara berulang sesuai dengan motif yang sudah ada, sedangkan karawo ikat dilakukan dengan cara mengikat bagian-bagian bahan yang telah diiris dan dicabut serat benangnya mengikuti motif yang telah dibuat. Motif yang digunakan pada sulaman karawo antara lain motif geometris, tumbuhan, binatang, manusia, alam, kreasi/khayalan.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Aliyawo
Deskripsi / Informasi
Sejenis parang dengan pandungo bermotif ular yang bermakna bahwa senjata ini berbahaya seperti ular berbisa. Ujung pandungo lebih besar dari pangkalnya. Pasangan senjata ini adalah sejenis tameng (penangkis) terbuat dari kayu sejenis kayu hitam. Kesaktian senjata ini (dulu) adalah setiap kali dicabut dari sarungnya untuk menyerang lawan, kena ataupun tidak pasti mematikan. Pantangannya adalah tidak boleh disimpan di bawah ranjang isteri atau permaisuri raja.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Ayunan Bayi / Lulunggela
Deskripsi / Informasi
Saat Jepang masih menjajah Indonesia, rata-rata perempuan di Gorontalo menenun sendiri kain untuk pelindung tubuhnya. Satu Kajian Koleksi Etnografika Museum Purbakala Gorontalo | 2020 156 lembar kain bisa memakan waktu sekitar satu hingga dua bulan, mulai dari proses memintal kapas, membuat benang, mewarnai, hingga menenun. ”Kata ibu, siapa yang tidak menenun pada masa itu, pasti dia telanjang. Jadi, mau tidak mau harus menenun,” Beberapa lembar kain tua terpampang di hadapan Yacob. Kain itu adalah hasil tenun Saidah yang tersisa, berikut alat titinggola (sebutan alat pemintal bagi masyarakat Gorontalo).
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Badi
Deskripsi / Informasi
Sejenis keris dengan mata besi berpunggung rata, bagian perutnya cembung dan tajam serta ujungnya runcing. Pandungo senjata terbuat dari kayu kuning diukir berbentuk kepala ular yang bermakna bahwa Badi berbahaya seperti ular berbisa. Pasangan Badi adalah sarung kayu kuning dengan pangkal sarung diukir berbentuk bagian depan payungo (topi adat) melengkung ke atas yang bermakna bahwa setiap pemakai senjata ini terkesan “Lengge-lengge”, artinya lebih perkasa dari yang lain. Bagian bawah sarung kayu diukir 4 kembang mencuat ke bawah yang bermakna: 1). 4 kembang menunjukkan 4 unsur yaitu Huta (tanah), Tulu (api), Dupoto (angin) dan Taluhu (air) yang bermakna milik Raja (pemakai Badi). 2). Mencuat ke bawah bermakna semua benda alam tersebut di atas akan masuk ke dalam tanah tertancap keras tidak boleh dibawa ke mana-mana. Kesaktian yang dimiliki Badi adalah sering mengeluarkan cahaya pada ujungnya yang tajam dan dapat dilempar menemui sasaran jika digunakan dengan tenaga dalam. Pantangannya adalah tidak boleh kelihatan jika dibawa serta, tidak boleh disimpan di sembarangan tempat dan tidak boleh disentuh atau dipegang oleh wanita.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Baju adat Mohuntingo (Aqiqah/Gunting Rambut)
Deskripsi / Informasi
Baju adat yang digunakan anak-anak (bayi) pada saat acara adat Mohuntingo (Aqiqah). Mohuntingo merupakan bagian dari menjalankan syare’at Islam yang di Gorontalo dipahami sebagai bagian dari pelaksanaan prinsip adat yang dikenal dengan “adati hula-hula’a to sara’a, sara’a hula-hula’a to kuru;ani atau adat bersendikan syara, dan syara’ bersendikan al-qur’an, oleh sebab itu setiap anggota masyarakat suku Gorontalo sebagai Muslim sejati, wajib melaksanakannya. Sebagai syukuran atas kebahagiaan yang dilimpahkan Allah, dengan menitipkan amanahnya kepada kedua orang tua, yang ditandai dengan aqiqah. Tahap-tahap upacara itu adalah: 1. Tahapan memaklumkan; Bila undangan telah hadir terutama para petugas upacara seperti hatibi, imam, serta pemerintah yang dipercayai akan memaklmkan kepada petugas bahwa bohu lo hundingo akan dimulai. Bohu lo huntingo akan dinyatakan dimulai bila semua perlengkapan telah tersedia; 2. Tahap penyetujuan; Tahap pemaklumatan akan disetujui oleh petugas bila tidak ada masalah-masalah lain yang bisa menghambat upacara. 3. Tahap doa; Doa akan dilaksanakan bila dipersilahkan oleh petugas atau pelaksana upacara. Doa upacara terbagi dua, yaitu doa berupa shalawat dan doa berupa pelaguan bahasa upacara. 4. Tahap pengguntingan; Tahap ini dimulai dengan pelaguan bahasa upacara dan pengarakan anak. Anak diarak sambil dipayungi, kemudian diserahkan kepada petugas yang akan melakukan pengguntingan. 5. Tahap pengusapan kening; Pengusapan kening dilakukan setelah tahap pengguntingan. Dalam hal ini setiap hadirin wajib mengusap kening anak sambil berdiri. 6. Tahap akhir/pemulangan; Anak akan dipulangkan ke tempatnya, sedangkan hadirin boleh duduk kembali. Setelah itu doa akan dilakukan berupa doa shalawat serta pemotongan hewan kurban serta pembagiannya kepada fakir miskin atau anak yatim. Sumber : - https://kebudayaan.kemdikbud.go.id - https://steemit.com/indonesia/@armour/tradisi-hundingo-potong-rambut-di-gorontalo
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Baju Adat Molihu lo Limu (Mandi Lemon)
Deskripsi / Informasi
Baju adat yang digunakan oleh anak perempuan saat acara adat Mopolihu lo Limu (Mandi Lemon)
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Baju Takowa
Deskripsi / Informasi
Baju takowa yang biasanya digunakan oleh pemangku adat dan laki-laki di acara adat Gorontalo.