Foto Masjid Raya di Kota Gorontalo 1927
"Versierde moskee in Kotta te Gorontalo ter gelegenheid van het bezoek van gouverneur-generaal A.C.D. de Graeff", Masjid yang didekorasi pada saat penyambutan kedatangan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff tahun 1927. KITLV 11326. Sejak masuknya Islam di Nusantara, masjid merupakan salah satu bangunan paling sentral di pusat-pusat kerajaan. Terbukti bahwa masjid dibangun berdekatan dengan bangunan pusat pemerintahan. Di kerajaan Gorontalo-pun demikian, secara historis masjid di Gorontalo dibangun bersamaan dengan pengenalan Islam (Syamsul Kurniawan, 2014: 169-184). Salah satu masjid yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Islam di Gorontalo adalah masjid Ibukota atau yang lebih dikenal pada era sekarang dengan nama masjid Baiturrahim Gorontalo. Sejak masa kolonial, masjid ini sudah menjadi pusat kegiatan agama Islam, sehingga tidak mengherankan masjid ini telah ditetapkan sebagai masjid Raya Provinsi Gorontalo. Pada tahun 1927, masjid ini yang didekorasi pada saat penyambutan kedatangan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff (Sumber : KITLV 11326) Masjid Agung Baiturrahim merupakan salah satu masjid tua yang dibangun di daerah Gorontalo. Masjid tersebut didirikan bersamaan dengan pembangunan Kota Gorontalo yang baru dipindahkan dari Dungingi ke Kota Gorontalo, tepatnya Kamis, 6 Syakban 1140 Hijriah atau 18 Maret 1728 M oleh Raja Botutihe, yakni Kepala Pemerintahan Batato Lo Hulondalo atau Kerajaan Gorontalo pada waktu itu (Inventarisasi Cagar Budaya, 2010). Masjid Agung Baiturrahim didirikan di pusat Pemerintahan Kerajaan (Batato), di antaranya Yiladiya (Rumah Raja), Bantayo Poboide (Balai Ruang / Balai Musyawarah), Loji (rumah kediaman Apitalawu atau Pejabat Keamanan Kerajaan), dan Bele Biya / Bele Tolotihu, yakni rumah-rumah pejabat kerajaan. Selanjutnya sesuai dengan perkembangan Pemerintahan dan masyarakat dan umat Islam, masjid yang sebelumnya menggunakan bahan dari kayu-kayuan, direnovasi dan dibangun kembali. Antara lain, tiang-tiangnya diganti dengan bangunan yang berfondasi dan berdinding batu pada tahun 1175 H atau 1761 Masehi oleh Raja Unonongo. Tebal dindingnya 0.80 meter. Pada tahun 1938 masjid tersebut hancur akibat gempa bumi yang dahsyat dan sejak saat itu pelaksanaan ibadah salat dan ibadah lainnya dilaksanakan pada bangunan darurat dekat masjid tersebut sampai dengan tahun 1946. Pada tahun 1946 dan 1947 diadakan pembangunan kembali masjid tersebut dipimpin oleh Abdullah Usman sebagai Pimpinan B.O.W (Inventarisasi Cagar Budaya, 2010). Pada tahun 1964 Masjid Agung Baiturrahim Gorontalo diperluas dengan penambahan serambi sebelah utara dan barat oleh panitia yang diketuai oleh T. Niode dan wakil ketuanya Haji Yusuf Polapa sebagai pelaksana harian. Tahun 1969 dibentuk lagi satu panitia yang baru yang diketuai oleh K.O. Naki, B.A. dan A. Naue sebagai pelaksana harian dan Kadi Abas Rauf sebagai pimpinan Ibadah. Perbaikan-perbaikan terus dilanjutkan di bawah pimpinan Sun Bone sampai pada bulan September 1979. Pada tahun 1982 dilakukan penambahan lokasi untuk jamaah wanita pada bagian selatan masjid oleh Bapak Drs. Haji Hasan Abas Nusi, Walikotamadya Gorontalo. Tahun 1988 dilakukan penataan pagar dan halaman oleh Bapak Drs. Ahmad Najamuddin, Walikotamadya KDH Tingkat II Gorontalo. Pada tahun 1996 diadakan penataan sumur bor sebagai tempat pengambilan air wudhu dan pendirian Menara Masjid oleh Bapak Drs. Hi. Ahmad Arbie, selaku Walikotamadya Tingkat II Gorontalo. Tahun 1999 dalam masa jabatan Walikotamadya Tingkat II Gorontalo Drs. Hi. Medi Botutihe, dilakukan pemugaran total Masjid Agung Baiturahim Kota Gorontalo, yang diresmikan oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie di Istana Merdeka, Rabu, 13 Oktober 1999 (3 Rajab 1420 H (Inventarisasi Cagar Budaya, 2010).
Komentar & Diskusi
0 tanggapanSampaikan pandangan atau pertanyaan resmi terkait publikasi ini.
Belum ada komentar pada konten ini.
Jadilah yang pertama untuk memberikan tanggapan atau pertanyaan resmi melalui formulir di bawah ini.
Tulis Komentar
Semua komentar akan melewati tahap moderasi operator resmi sebelum ditampilkan.