Histori
Imported from master_kategoris#14
Bendera Merah Putih
Bendera Merah Putih yang digunakan di alun-alun kota Gorontalo. Menjelang pukul 10.00 pagi...
Bendera Merah Putih + Kotak
"Bendera Merah Putih beserta kotaknya adalah bendera yang pertama kali dikibarkan sejak be...
Foto Acara Khitanan di Gorontalo, 1910
"Besnijdenis te Gorontalo", khitanan/pembeatan di Gorontalo. KITLV 7420. Perjalanan adat...
Foto Aktivitas Masyarakat Gorontalo tahun 1920
"Inheemse man en vrouw zittend op een paard, daar achter een man met een karbouw; Gorontal...
Foto Bangku dan Meja ( 1 Set ) Sekolah Rakyat
Berasal dari SDN 1 Bonepantai. Sekolah tersebut merupakan sekolah tempat Nikolas kaluara m...
Foto Benteng Nasau
Benteng Nassau dibangun oleh VOC pada Tahun 1700an. Lokasi pembangunan benteng sebelumnya...
Foto Gerbang Kehormatan di Jembatan Talumolo 1927
"Erepoort op de Taloemolobrug te Gorontalo ter gelegenheid van de komst van gouverneur-gen...
Foto Gerbang Kehormatan di Jembatan Talumolo 1927
"Erepoort op de Taloemolobrug te Gorontalo ter gelegenheid van de komst van gouverneur-gen...
Foto Gerbang Kehormatan di Kampung Cina 1927
"Erepoort bij de ingang van het Chinese kamp te Gorontalo ter gelegenheid van de komst van...
Foto Gerbang Kehormatan Kampung Arab 1927
"Erepoort in het Arabische kamp te Gorontalo ter gelegenheid van de komst van gouverneur-g...
Foto Gub.Jend.de Graeff Meninggalkan Pelabuhan Gorontalo
"Gouverneur-generaal A.C.D. de Graeff (links) bij zijn vertrek uit Gorontalo tijdens zijn...
Foto Hotel Veldberg 1910
"Hotel Veldberg te Gorontalo, Noord-Celebes", hotel Veldberg di Gorontalo sekitar 01 April...
Bendera Merah Putih
Deskripsi / Informasi
Bendera Merah Putih yang digunakan di alun-alun kota Gorontalo. Menjelang pukul 10.00 pagi tanggal 23 Januari 1942 atau 5 jam setelah operasi penangkapan dilakukan, massa berkumpul di alun-alun (lapangan Taruna Remaja sekarang) berkumpul mengikuti proses penaikan bendera Merah Putih (ANRI) dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Bendera Merah Putih + Kotak
Deskripsi / Informasi
"Bendera Merah Putih beserta kotaknya adalah bendera yang pertama kali dikibarkan sejak berdirinya Provinsi Gorontalo setelah berpisah dari Provinsi Sulawesi Utara pada upacara HUT ke-56 Proklamasi RI 17 Agustus 2001 tingkat Provinsi Gorontalo di halaman eks Kantor Gubernur Gorontalo, Jl. Jenderal Sudirman Kota Gorontalo. Bendera ini diserahkan ke Museum Provinsi oleh Gubernur Gorontalo periode 2011 - 2017, Drs. Rusli Habibie, M.AP pada upacara HUT ke-71 Proklamasi RI 17 Agustus 2016. Adapun dasar hukum berdirinya provinsi Gorontalo adalah Undang-Undang Nomor 38 tahun 2000 (Apriyanto, 2012) Sumber: - Joni Apriyanto. 2012. Sejarah Gorontalo Modern: Dari Hegemoni Kolonial Ke Provinsi. Yogyakarta: Ombak. "
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Acara Khitanan di Gorontalo, 1910
Deskripsi / Informasi
"Besnijdenis te Gorontalo", khitanan/pembeatan di Gorontalo. KITLV 7420. Perjalanan adat mome’ati di Gorontalo pada hakikatnya memiliki sejarah panjang hingga menjadi sebuat adat yang sudah paten. Hal ini tentunya mempunya landasan dasar sehingga adat ini masih tetap dipertahankan. Adapun dasar adat mome’ati (membaiat) adalah suatu keharusan syariat Islam yang merupakan perjanjian/ikrar dengan inti pengucapan kalimat syahadat, melaksanakan rukun Islam dan rukun iman secara utuh, sebagai seorang muslim mulai dari timbul kedewasaan (haid) (Muhiddin Bakry, 2016: 188). Adat mome’ati diikuti oleh beberapa urutan rangkaian ritual yang dimulai dari pemakaian leksem yang kental dengan adat yaitu, hulanthe, momuguto, momontho, wolimo- mo, mopogiho’o no pingga pitu, setengah bili’u, dan mome’ati. Pada pembacaan ikrar dan nasehat (mome’ati) terdapat nilai-nilai estetika; keindahan, keharuman, keserasian, kesehatan, kemulusan, kelembutan, kesejukan, kebahagiaan, kesejahteraan, Kebersihan, keceriaan, kemuliaan, dan kenikmatan. Lebih lanjut, terdapat 46 kesatuan leksikon pada benda-benda adat dalam ritual mome’ati meliputi 35 pemunculan nilai estetika, 28 nilai etika, 16 nilai religi, 15 nilai sosial, dan masing-masing 6 nilai budaya dan nilai didik.5 Ritual adat mome’ati yang sampai saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Gorontalo, khususnya masyarakat kota Gorontalo adalah merupakan ekspresi spiritual. "Hal ini karena, makna religiusitas adalah sebuah ekspresi spiritual seseorang yang berkaitan dengan sistem keyakinan, nilai, hukum yang berlaku dan ritual. Ungkapan lain, religiusitas yaitu sikap keberagamaan yang berarti adanya unsur internalisasi agama ke dalam diri seseorang. Selain itu, pendapat lain mengatakan bahwa religiusitas merupakan sebuah proses untuk mencari sebuah jalan kebenaran yang berhubungan dengan sesuatu yang sakral. Oleh karena itu, berangkat dari permasalahan di atas, maka dalam penelitian ini akan mengkaji tentang fenomena studi keberagamaan Islam Nusantara terhadap aspek-aspek religiusitas adat mome’ati pada masyarakat kota Gorontalo dan bagaimana pandangan ajaran Islam terhadap adat momeati pada masyarakat kota Gorontalo yang sampai saat ini masih dipertahankan (Muhiddin Bakry, 2016: 187). Sumber: - Muhiddin Bakry. Nilai-Nilai Religiusitas Adat Mo Me’ati Pada Masyarakat Kota Gorontalo (Replika Islam Nusantara), dalam Jurnal A Al-Ulum Volume 16 Number 1 June 2016, hlm 185-207. "
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Aktivitas Masyarakat Gorontalo tahun 1920
Deskripsi / Informasi
"Inheemse man en vrouw zittend op een paard, daar achter een man met een karbouw; Gorontalo - Noord-Celebes", pria dan wanita pribumi duduk di atas kuda, di belakang seorang pria dengan kerbau; Gorontalo - Sulawesi Utara sekitar tahun 1920. KITLV 27325. Menarik untuk disimak gambar di atas, dimana secara umum masyarakat memahami bahwa kehidupan masyarakat Gorontalo menjadikan hewan sebagai moda transportasi darat, baik untuk ke kebun maupun untuk mejual hasil bumi ke pasar. Namun jika dilacak dalam tulisan Hasanuddin dan Basri Amin (2012:143-144) menarik untuk disimak beberapa laporan tentang alat transportasi pada abad 18. Di Gorontalo misalnya, kuda sebenarnya bukanlah alat transportasi yang ada sejak awal. Meski kuda popular dipakai untuk kepentingan makanan dan alat tranportasi, bahkan untuk olahraga, tapi Padtbrugge mencatat bahwa belum ada kuda di Gorontalo pada tahun 1677 dan 1681, dan nanti ditemukan pada tahun 1729. Pada periode 1670-an, yang banyak ditemukan adalah Biri-biri dan Kambing. Uniknya, karena setelah 1850 peternakan kuda menjadi dominan di Gorontalo. Laporan kolonial 1860 mencatat jumlah kuda 4.929, kerbau 5.282, dan sapi 113. Pada konteks ini, jika dilihat dari data laporan kolonial menunjukkan bahwa sapi pada saat itu belum pesat perkembangannya di Gorontalo dibanding kuda dan kerbau. Perkembangan sapi mencapai titik puncaknya nanti pada abad ke-20 dimana hal ini tidak terjadi di abad-abad sebelumnya. "Pada abad ke-18, tampaknya peternakan lebih diperuntukan untuk kepentingan mendukung pekerjaan masyarakat, misalnya untuk dijadikan alat bantu transportasi dan pengolahan sawah atau kebun. Tapi tercatat pula dalam sumber-sumber tertulis bahwa keberadaan hewan peliharaan diperuntukan untuk menunjukkan prestise atau status social seseorang, atau dalam kepentingan lain hewan-hewan peliharaan bias juga digunakan sebagai alat tukar pada saat itu (Hasanuddin dan Basri Amin, 2012:143-144). Sumber: - Hasanudin & Basri Amin. 2012. Gorontalo Dalam Dinamika Sejarah Masa Kolonial. Yogyakarta: Ombak "
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Bangku dan Meja ( 1 Set ) Sekolah Rakyat
Deskripsi / Informasi
Berasal dari SDN 1 Bonepantai. Sekolah tersebut merupakan sekolah tempat Nikolas kaluara mengajar. beliau adalah salah satu pejuang gorontalo yang mendapat siksaan dari Netherlands- indies administration (NICA) atau pemerintahan sipil india belanda Nikolas kaluara kelahiran tamako, siau,sangihe talahu ini merupakan seorang guru sekolah rakyat (SR) di kwandang dari Tahun 1930 dan dipindah tugaskan Tahun 1937 di SR bilungala yang merupakan satu satunya sekolah di Bonepantai - Bilungala
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Benteng Nasau
Deskripsi / Informasi
Benteng Nassau dibangun oleh VOC pada Tahun 1700an. Lokasi pembangunan benteng sebelumnya merupakan lokasi benteng Ota Huta yang dibangunpada masa pemerintahan Sultan Botutihe. Lokasi benteng sangat strategis. karena berada di dekat muara sungai Bolango yang menjadi pintu masuk kapal-kapal asing ke gorontalo. Benteng Nassau berbentuk persegi dengan dua bastion ( utara dan selatan ) 2 pintu ( utara dan selatan ), dan terdapat beberapabangunan permanen di dalamnya ( rumah residen,gudang ,gereja,penjara,kandang kuda,dan pos jaga)masing-masing bastion terdapat 10 meriam untuk menghalau serangan musuh. Bangunan perumahan prajurit terletak di sekitar benteng, Berdasarkan data sejarah, Benteng Nasssau mengalami kerusakan pada akhir tahun 1800, sehingga di bangun benteng baru di lokasi yang sama. Bangunan benteng baru berbentuk segi empat, Lebih luas dengan empat bastion di tiap sudutnya, dan diberi nama Nieuw Nassau . Bastion tenggara merupakan salah bastion terbesar dan gterdapat sebuah bangunan di dalamnya. Didalam bangunan benteng terdapat beberapa bangunan permanen, seperti gedung,gudang penjara,asrama prajurit,gudang bunker, dan pos jaga, lokasi tersebjut pada Tahun 1940an dikenal sebagai kantor polisi (veldpolitie) yang bertanggung jawab terhadap keamanan Gorontalo dan asrama (tangsi) sehingga masyarakat mengenal kawasan benteng dengan nama tangsi, Bangunan benteng mangalami kerusakan akibat bencana alam (banjir dan gempa)
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Gerbang Kehormatan di Jembatan Talumolo 1927
Deskripsi / Informasi
"Erepoort op de Taloemolobrug te Gorontalo ter gelegenheid van de komst van gouverneur-generaal A.C.D. de Graeff", gerbang kehormatan di jembatan Talumolo pada saat kedatangan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff tahun 1927. KITLV 11323. Dr. Andries Cornelies Dirk de Graeff adalah Gubernur Jenderal Hindi Belanda yang ke 60 pada tahun 1926-1931 (pada masa kekuasaan Belanda II 1816-1949). Pada tanggal 8 September 1927, terdapat berita dari koran "Nieusblad van het Noorden. No.211", Halaman 2, Kolom Gemengde Berichten (Pesan Campuran), yang secara garis besar memberitakan bahwa berdasarkan pesan telegram, Gubernur Jenderal bersama 10 orang lainnya akan melakukan perjalanan bisnis (mengunjungi) ke Makassar, Balikpapan, Donggala, Manado, Tarona, Gorontalo, Ternate, Bacan, Ambon, Banda, Tual, Kupang (Timor), Endeh (Flores) dan Bima. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar satu bulan. Selain itu terdapat pula informasi berita tentang perjalanan A.C.D de Graef ke Minahasa, Manado, Tomohon pada tanggal 20-23 September 1927 pada surat kabar "Twentsch Dagblad Tubantia en Enschedesche Courant. No.278" tertanggal 25 November 1927 yang menceritakan tentang, mulai dari persiapan penyambutan gubernur, penyambutan dilakukan secara besar-besaran dan meriah, serta kunjungan ke rumah-rumah ibadah, dan sekolah-sekolah. "Kedatangan de Graeff ke Gorontalo disambut dengan meriah oleh pembesar kerajaan Gorontalo, mulai dari irng-iringan penduduk dengan menggunakan kuda, hiasan-hiasan pada masjid Agung, pembuatan gerbang penyambutan di kampung Arab dan Cina. Setelah itu de Graeff mengadakan kunjungan ke daerah yang ada di sekitar Gorontalo. Sumber: - Koran bahasa belanda tertanggal 8 september 1927 Nieuwsblad van het Noordeen - Koran bahasa Belanda tertanggal 26 September 1927 Het Vadrland - Koran bahasa Belanda tertanggal 25 November 1927 Twentsch Dagblad Tubantia en Enschedesche"
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Gerbang Kehormatan di Jembatan Talumolo 1927
Deskripsi / Informasi
"Erepoort op de Taloemolobrug te Gorontalo ter gelegenheid van de komst van gouverneur-generaal A.C.D. de Graeff", gerbang kehormatan di jembatan Talumolo pada saat kedatangan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff tahun 1927. KITLV 11323. Dr. Andries Cornelies Dirk de Graeff adalah Gubernur Jenderal Hindi Belanda yang ke 60 pada tahun 1926-1931 (pada masa kekuasaan Belanda II 1816-1949). Pada tanggal 8 September 1927, terdapat berita dari koran "Nieusblad van het Noorden. No.211", Halaman 2, Kolom Gemengde Berichten (Pesan Campuran), yang secara garis besar memberitakan bahwa berdasarkan pesan telegram, Gubernur Jenderal bersama 10 orang lainnya akan melakukan perjalanan bisnis (mengunjungi) ke Makassar, Balikpapan, Donggala, Manado, Tarona, Gorontalo, Ternate, Bacan, Ambon, Banda, Tual, Kupang (Timor), Endeh (Flores) dan Bima. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar satu bulan. Selain itu terdapat pula informasi berita tentang perjalanan A.C.D de Graef ke Minahasa, Manado, Tomohon pada tanggal 20-23 September 1927 pada surat kabar "Twentsch Dagblad Tubantia en Enschedesche Courant. No.278" tertanggal 25 November 1927 yang menceritakan tentang, mulai dari persiapan penyambutan gubernur, penyambutan dilakukan secara besar-besaran dan meriah, serta kunjungan ke rumah-rumah ibadah, dan sekolah-sekolah. "Kedatangan de Graeff ke Gorontalo disambut dengan meriah oleh pembesar kerajaan Gorontalo, mulai dari irng-iringan penduduk dengan menggunakan kuda, hiasan-hiasan pada masjid Agung, pembuatan gerbang penyambutan di kampung Arab dan Cina. Setelah itu de Graeff mengadakan kunjungan ke daerah yang ada di sekitar Gorontalo. Sumber: - Koran bahasa belanda tertanggal 8 september 1927 Nieuwsblad van het Noordeen - Koran bahasa Belanda tertanggal 26 September 1927 Het Vadrland - Koran bahasa Belanda tertanggal 25 November 1927 Twentsch Dagblad Tubantia en Enschedesche"
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Gerbang Kehormatan di Kampung Cina 1927
Deskripsi / Informasi
"Erepoort bij de ingang van het Chinese kamp te Gorontalo ter gelegenheid van de komst van gouverneur-generaal A.C.D. de Graeff", gerbang kehormatan di pintu masuk kampung Cina pada saat kedatangan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff tahun 1927. KITLV 11324. Dr. Andries Cornelies Dirk de Graeff adalah Gubernur Jenderal Hindi Belanda yang ke 60 pada tahun 1926-1931 (pada masa kekuasaan Belanda II 1816-1949). Pada tanggal 8 September 1927, terdapat berita dari koran "Nieusblad van het Noorden. No.211", Halaman 2, Kolom Gemengde Berichten (Pesan Campuran), yang secara garis besar memberitakan bahwa berdasarkan pesan telegram, Gubernur Jenderal bersama 10 orang lainnya akan melakukan perjalanan bisnis (mengunjungi) ke Makassar, Balikpapan, Donggala, Manado, Tarona, Gorontalo, Ternate, Bacan, Ambon, Banda, Tual, Kupang (Timor), Endeh (Flores) dan Bima. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar satu bulan. Selain itu terdapat pula informasi berita tentang perjalanan A.C.D de Graef ke Minahasa, Manado, Tomohon pada tanggal 20-23 September 1927 pada surat kabar "Twentsch Dagblad Tubantia en Enschedesche Courant. No.278" tertanggal 25 November 1927 yang menceritakan tentang, mulai dari persiapan penyambutan gubernur, penyambutan dilakukan secara besar-besaran dan meriah, serta kunjungan ke rumah-rumah ibadah, dan sekolah-sekolah. "Kedatangan de Graeff ke Gorontalo disambut dengan meriah oleh pembesar kerajaan Gorontalo, mulai dari irng-iringan penduduk dengan menggunakan kuda, hiasan-hiasan pada masjid Agung, pembuatan gerbang penyambutan di kampung Arab dan Cina. Setelah itu de Graeff mengadakan kunjungan ke daerah yang ada di sekitar Gorontalo. Sumber: - Koran bahasa belanda tertanggal 8 september 1927 Nieuwsblad van het Noordeen - Koran bahasa Belanda tertanggal 26 September 1927 Het Vadrland - Koran bahasa Belanda tertanggal 25 November 1927 Twentsch Dagblad Tubantia en Enschedesche"
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Gerbang Kehormatan Kampung Arab 1927
Deskripsi / Informasi
"Erepoort in het Arabische kamp te Gorontalo ter gelegenheid van de komst van gouverneur-generaal A.C.D. de Graeff", gerbang kehormatan di kampung Cina pada saat kedatangan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff, September 1927. KITLV 11327. Dari perkampungan Cina ke arah Barat terdapat kampong Arab, dimana masih terdapat beberapa bangunan bangunan asli dengan gaya arsitektur khas kolonial hasil akulturasi dengan arsitektur lokal. Sebuah masjid terdapat di tengah kawasan tersebut yang dikenal masyarakat sebagai masjid Arab. Aktivitas perdagangan mewarnai kawasan ini. Para pedagang Arab yang datang ke wilayah ini pada umumnya berasal dari Surabaya, disamping aktivitas berdagang, para pendatang Arab di kawasan ini juga melakukan aktivitas dakwah untuk penyebaran agama Islam (Hasanuddin, 2015). Masjid yang berdiri kokoh, serta beberapa bangunan dengan gaya arsitektur Arab di kawasan ini menjadi penanda bahwa sejak dulu kawasan ini merupakan pemukiman para pendatang Arab dari Surabaya. Selanjutnya, di kawasan ini pula pernah dibangun Gerbang Kehormatan, yang dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff saat melakukan kunjungan kerja di Gorontalo, September 1927. KITLV 11327.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Gub.Jend.de Graeff Meninggalkan Pelabuhan Gorontalo
Deskripsi / Informasi
"Gouverneur-generaal A.C.D. de Graeff (links) bij zijn vertrek uit Gorontalo tijdens zijn bezoek aan Manado en de residentie", Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff (kiri) pada keberangkatannya dari Gorontalo selama kunjungannya ke Manado dan tempat tinggalnya. KITLV 11331. Dr. Andries Cornelies Dirk de Graeff adalah Gubernur Jenderal Hindi Belanda yang ke 60 pada tahun 1926-1931 (pada masa kekuasaan Belanda II 1816-1949). Pada tanggal 8 September 1927, terdapat berita dari koran "Nieusblad van het Noorden. No.211", Halaman 2, Kolom Gemengde Berichten (Pesan Campuran), yang secara garis besar memberitakan bahwa berdasarkan pesan telegram, Gubernur Jenderal bersama 10 orang lainnya akan melakukan perjalanan bisnis (mengunjungi) ke Makassar, Balikpapan, Donggala, Manado, Tarona, Gorontalo, Ternate, Bacan, Ambon, Banda, Tual, Kupang (Timor), Endeh (Flores) dan Bima. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar satu bulan. Selain itu terdapat pula informasi berita tentang perjalanan A.C.D de Graef ke Minahasa, Manado, Tomohon pada tanggal 20-23 September 1927 pada surat kabar "Twentsch Dagblad Tubantia en Enschedesche Courant. No.278" tertanggal 25 November 1927 yang menceritakan tentang, mulai dari persiapan penyambutan gubernur, penyambutan dilakukan secara besar-besaran dan meriah, serta kunjungan ke rumah-rumah ibadah, dan sekolah-sekolah. "Kedatangan de Graeff ke Gorontalo disambut dengan meriah oleh pembesar kerajaan Gorontalo, mulai dari irng-iringan penduduk dengan menggunakan kuda, hiasan-hiasan pada masjid Agung, pembuatan gerbang penyambutan di kampung Arab dan Cina. Setelah itu de Graeff mengadakan kunjungan ke daerah yang ada di sekitar Gorontalo. Sumber: - Koran bahasa belanda tertanggal 8 september 1927 Nieuwsblad van het Noordeen - Koran bahasa Belanda tertanggal 26 September 1927 Het Vadrland - Koran bahasa Belanda tertanggal 25 November 1927 Twentsch Dagblad Tubantia en Enschedesche"
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Hotel Veldberg 1910
Deskripsi / Informasi
"Hotel Veldberg te Gorontalo, Noord-Celebes", hotel Veldberg di Gorontalo sekitar 01 April 1910. Koleksi foto milik J.H.E. Van der Wal/Den Haag. KITLV 31040. Hotel Melati terletak di Jalan Wolter Monginsidi No. 05, Kelurahan Tenda RT VII/RW III, Kecamatan Kota Selatan. Sejak awal bangunan ini berfungsi sebagai penginapan, nama awalnya Hotel Velberg, kemudian sejak tahun 1960-an berubah nama menjadi Hotel Melati. Hotel Melati pertama kali dibangun pada tahun 1900 oleh Hendrik Vellberg seorang syahbandar pelabuhan Gorontalo pada masa itu. Hotel Melati adalah hotel pertama yang dibangun pada zaman Belanda di Gorontalo. Hotel ini dulunya lebih banyak digunakan oleh pelaut-pelaut yang kapalnya sedang singgah di pelabuhan Gorontalo (Inventarisasi Cagar Budaya 2010). "Bentuk bangunan ini merupakan perpanduan antara arsitektur kolonial dan arsitektur Sulawesi utara yang dibuat dari bahan kayu hitam. Lantai bagian terbuat dari campuran semen warna hitam, dinding dari kayu berwarna krem, jendela berbentuk panil dan menggunakan jendela dobel, jendela bagian dalam terbuat dari kaca,diatas jendela terdapat lubang angin, pintu panil dan bagian dalam dilapisi pintu kaca, plafon dari bahan papan, Atap bangunan berbentuk pelana dengan bahan seng, bagian depan terdapat teras yang ditopang dengan tiang dari kayu berjumlah 5 (lima) tiang. Hotel melati mempunyai kamar berjumlah 6 (enam) buah,3 (tiga) terletak disebelah kiri dan 3 (tiga) disebelah kanan.Bagian belakang bangunan berfungsi sebagai ruang makan dan dapur. Luas keseluruhan bangunan adalah 106, 4 m2 (Inventarisasi Cagar Budaya 2010). Sumber: - Inventarisasi Cagar Budaya 2010 "