Histori
Imported from master_kategoris#14
Bendera Merah Putih
Bendera Merah Putih yang digunakan di alun-alun kota Gorontalo. Menjelang pukul 10.00 pagi...
Foto Jalan Alun-alun Kota Gorontalo 1927
"""Versierde weg langs de aloen-aloen te Gorontalo ter gelegenheid van de komst van gouver...
Foto Jembatan Melintasi Sungai Di Gorontalo
"Brug over een rivier te Gorontalo", jembatan di atas sungai di Gorontalo sekitar tahun 19...
Foto Kampung Cina di Jalan Penghoeloe Gorontalo
"Het Chinese Kamp aan de Penghoeloestraat te Gorontalo", kampung Cina di jalan Penghoeloe...
Foto Kantor Polisi
-
Foto Kantor Pos dan Telegraf di Gorontalo 1930
"""Het Post- en Telegraafkantoor te Gorontalo"", kantor pos dan telegraf Gorontalo tahun 1...
Foto Kapal Uap "Van Heemskerck" di Dermaga Gorontalo
"Het stoomschip Van Heemskerk van de Koninklijke Pakketvaart Maatschappij voor de rede van...
Foto Kediaman Asisten Residen
"Laan voor de assistent-residentswoning te Gorontalo", jalan menuju kompleks pemukiman Asi...
Foto Kunjungan Gub.Jend.A.C.D de Graeff di Duane Gorontalo 1927
"Gouverneur-generaal A.C.D. de Graeff arriveert per auto bij het douaneterrein te Gorontal...
Foto Masjid Raya di Kota Gorontalo 1927
"Versierde moskee in Kotta te Gorontalo ter gelegenheid van het bezoek van gouverneur-gene...
Foto Mempelai Gorontalo, 1910
"Bruidspaar uit de middenklasse te Gorontalo", pengantin kelas menengah di Gorontalo. KITL...
Bendera Merah Putih
Deskripsi / Informasi
Bendera Merah Putih yang digunakan di alun-alun kota Gorontalo. Menjelang pukul 10.00 pagi tanggal 23 Januari 1942 atau 5 jam setelah operasi penangkapan dilakukan, massa berkumpul di alun-alun (lapangan Taruna Remaja sekarang) berkumpul mengikuti proses penaikan bendera Merah Putih (ANRI) dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Jalan Alun-alun Kota Gorontalo 1927
Deskripsi / Informasi
"""Versierde weg langs de aloen-aloen te Gorontalo ter gelegenheid van de komst van gouverneur-generaal A.C.D. de Graeff"", jalan yang didekorasi di sepanjang aloen-aloen di kota Gorontalo pada saat penyambutan kedatangan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff tahun 1927. KITLV 11328. (sekarang Taruna remaja). Alun-alun ini merupakan saksi sejarah penaikan Bendera Merah Putih dan pembacaan pidato kemerdekaan yang dibacakan oleh Nani Wartabone (Mursalat Kulap, dkk. 2017). Jika diidentifikasi dari fakta sejarah di atas, alun-alun Gorontalo (sekarang Taruna Remaja) telah mempertegas memori kolektif masyarakat Gorontalo terkait perjuangan dan pembebasan rakyat dari penjajahan Belanda. Saat ini alun-alun Gorontalo telah berubah menjadi Lapangan Taruna Remaja yang banyak dipadati masyarakat Gorontalo dengan berbagai aktivitas. Sumber: - Mursalat Kulap, dkk. 2017. Nani Wartabone dalam Pergerakan Nasional di Gorontalo, Sukoharjo : OASE Pustaka. "
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Jembatan Melintasi Sungai Di Gorontalo
Deskripsi / Informasi
"Brug over een rivier te Gorontalo", jembatan di atas sungai di Gorontalo sekitar tahun 1927. KITLV 5941. Jembatan Potanga, berada di Kelurahan Pilolodaa Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Jembatan Potanga merupakan sarana penghubung antara perkampungan di sekitar danau Limboto dan wilayah Kota Gorontalo. Dengan adanya jembatan ini, sangat memudahkan akses masyarakat di piinggiran kota untuk melakukan aktivitas ke Wilayah Kota Gorontalo. Jembatan Potanga terbuat dari kayu dengan atap rumbia. Arsitektur jembatan (Sumber: KITLV 5941).
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Kampung Cina di Jalan Penghoeloe Gorontalo
Deskripsi / Informasi
"Het Chinese Kamp aan de Penghoeloestraat te Gorontalo", kampung Cina di jalan Penghoeloe tahun 1900. Kedatangan orang Cina tidak diketahui secara pasti, beberapa sumber mengatakan bahwa mereka masuk ke Gorontalo melalui Manado. Untuk dapat melacak bukti-bukti keberadaan orang Cina dapat diketahui pada nisan kubur tertua (di Kampung Siendeng) berangka tahun 1863. Kelompok Etnik Cina terdiri dari berbagai sub kelompok, diantaranya terdiri beberapa suku yaitu Hokkian, Khe, Kanton dan Hainan (Hasanudin, 2014: 88). Penetapan koloni dan lokasi pemukiman pertama-tama mempertimbangkan segi-segi praktis, sama seperti di Negeri Cina dimana sungai berperan lebih penting sebagai sarana perdagangan dan transportasi. Di daerah sekitar Sungai Bolango mereka mendirikan perkampungan khas Cina dan sekaligus menjadi satuan sosio-ekonomi sebagai satuan komunitas yang produktif. Kawasan pemukiman (pecinan) merupakan pusat perdagangan menempati lokasi sekitar muara Sungai Bolango (Jl. Suprapto, Kel. Biawao sekarang). KITLV 5013. Di kawasan itu mereka mendirikan Kelenteng "Tan Hou Kiong" (Jl. S. Parman sekarang) sebagai pusat pemukimannya. Pembangunan Kelenteng Tan Hou Kiong diprakarsai oleh Lie Bun Yat, Kho Lin Tjie, Yo Ho Lian, dan Lie Bun Tjae. Kelenteng dibangun selain sebagai tempat beribadah bagi umat beragama Budha, Tao dan Kong Hu Cu juga sarana berkumpul bagi etnis Cina. Untuk itu kompleks pemukiman etnik Cina sangat strategis yang sesuai dengan inti pola kehidupannya sebagai pedagang yakni berdekatan dengan Klenteng, pasar dan pelabuhan. Orang- orang Cina yang berasal dari Manado berusaha di bidang perdagangan kecil (Hasanudin, 2014: 88-89). "Peranan pedagang Cina sangat penting dalam mata rantai perdagangan di Gorontalo, di samping orang Eropa dan Bugis. Dikeluarkannya kebijakan pemerintah Belanda Belanda tahun 1846 (UU No. 6 Algemeene Beppalingen Van Wetgeving) telah memberikan posisi istimewa kepada kelompok Cina sebagai pedagang perantara (handlanger). Mereka umumnya membeli hasil hutan utamanya rotan dan damar dari penduduk pribumi serta menjualnya ke pedagang lain atau perusahaan dagang Belanda (Hasanudin, 2014: 89). Sumber: - Hasanuddin. 2014. Pelayaran dan Perdagangan Gorontalo abad ke-18 dan 19. Yogyakarta: Penerbit Kepel Press. "
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Kantor Pos dan Telegraf di Gorontalo 1930
Deskripsi / Informasi
"""Het Post- en Telegraafkantoor te Gorontalo"", kantor pos dan telegraf Gorontalo tahun 1910. KITLV 13832. Kantor Pos terletak di jalan Nani Wartabone No.16, Kelurahan Ipilo, Kecamatan Kota Timur. Bangunan ini awalnya berfungsi sebagai kantor pos dan Telegraph, tetapi sekarang hanya berfungsi sebagai kantor pos. Kantor Pos sebagai salah satu cagar budaya di Gorontalo telah ditetapkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dengan Surat Keputusan Permenbudpar No PM 10/PW 007/MKP 2010 sebagai Cagar Budaya Nasional yang dilindungi oleh Undang-undang Cagar Budaya No 11 Tahun 2010. Bangunan ini memiliki luas 693 m2 dengan luas lahan ± 900 m2. Batas-batas bangunan ini sebelah utara bangunan dengan Jalan 23 Januari, sebelah selatan perumahan PT Telkom, sebelah timur TK Sandhy Putra, dan sebelah barat Jalan Nani Wartabone. Fondasi dari batu dan sistem struktur dari beton " "bertulang. Atap bangunan berbentuk pelana dan terbuat dari genteng, listplang sangat lebar. Bagian dalam terbagi 8 (delapan) ruangan, salah satu ruangan yang terpenting adalah ruangan “Khasanah” yang didesain khusus dengan ketebalan dinding 50 cm. Di ruangan ini ditempatkan brankas yang berisi dokumen-dokumen penting. Brankas ini sejak zaman Belanda hingga kini masih berfungsi. Bangunan diberi pagar keliling tembok dan besi. Di bagian luar pagar terdapat kotak surat dari zaman Belanda. Luas bangunan 693 m2 dan luas lahan ± 900 m2. Dari tinjauan sejarah Gorontalo, di areal bangunan ini pernah dijadikan tempat untuk pengibaran bendera merah putih oleh kaum muda Gorontalo pada tanggal 23 Januari 1942. Berdasarkan prasasti yang terdapat di sebelah selatan pintu masuk utama diketahui bahwa bangunan ini pernah dipugar pada tanggal 15 Juli - 30 Desember 1959. Bangunan ini menghadap kearah barat dan terdiri dari satu lantai. " Dari tinjauan sejarah Gorontalo, di areal bangunan ini pernah dijadikan tempat untuk pengibaran bendera merah putih oleh kaum muda Gorontalo pada tanggal 23 Januari 1942. Tindakan pemuda ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah Jepang (Inventarisasi Cagar Budaya Kota Gorontalo 2010).
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Kapal Uap "Van Heemskerck" di Dermaga Gorontalo
Deskripsi / Informasi
"Het stoomschip Van Heemskerk van de Koninklijke Pakketvaart Maatschappij voor de rede van Gorontalo", kapal uap 'Van Heemskerk' dari perusahaan ekspedisi Belanda KPM (Koninklijke Pakketvaart Maatschappij/Royal Packet Navigation) di Teluk Gorontalo sekitar tahun 1910. KITLV 13757. Munculnya perusahaan pelayaran berskala besar memberi dampak positif bagi Gorontalo lebih memperluas jaringan komunikasi dengan daerah-daerah lainnya. Sejak 4 September 1888 dibuka perusahaan KPM, dengan membuka jalur pelayaran baru di Gorontalo, Manado, Kema, Ternate (Hasanudin, 2014: 50). Melalui perusahaan ekspedisi/navigasi ini lalu lintas pelayaran kian intensif ke/dari pelabuhan Gorontalo (Basri Amin, 2012: 38) Dalam konteks jalur pelayaran, paling menarik perhatian pengurus KPM adalah pesatnya pelayaran Singapura, Maluku, Makassar dan Surabaya. Kondisi ini mendorong KPM untuk dapat mengambil alih jalur pelayaran tersebut. Setelah mempelajari potensi ekonomi di wilayah Hindia-Belanda, selanjutnya menyusun jalur pelayaran subsidi. Hasilnya dituangkan dalam perjanjian, untuk Gorontalo (Jalur No.9 dan 14) dengan pelayaran Soerabaja - Bali - Boeleleng - Ampenan - Makassar - Timor Deli - Banda - Amboina - Boeroe - Batjan - Kwandang -Tolitoli – Polosbaai - Pare-pare - Makassar - Ampenan - Bali - Boeleleng - Soerabaja. Jalur pelayaran 9 dan 14 mulai dilaksanakan pada 17 Januari 1891 dari Surabaya. Begitu pula jalur pelayaran Batjan - Ternate – Manado - Gorontalo dilakasanakan dalam 4 minggu sekali (Hasanudin, 2014: 50). "KPM (jalur 18) melayani pelayaran arah utara melalui Manado dan Ternate ke Pantai Selatan Minahasa, Gorontalo, hingga Teluk Tomini yang ditempuh selama dua minggu perjalanan dari Makassar. Selain itu, terdapat jalur sepanjang pantai Selatan dan Timur Sulawesi melalui Selat Buton, Teluk Tumori, Kolonadale ,Banggai, sampai Gorontalo (jalur 21) ditempuh dalam waktu empat minggu dari Makassar (Hasanudin, 2014: 50-51). Di kawasan Teluk Tomini, KPM mengangkut kopra, kayu cendana, damar, dan rotan. Barang dagangan ini dibawa dari Gorontalo, sebagai tempat pengmpulan dan penimbunan menggunakan tiga dermaga di pelabuhan Gorontalo. Setelah komoditas kopra terkumpul, kemudian kopra diangkut dengan KPM menuju Makassar. Beberapa kopra di Makassar diekspor ke Amerika dengan kapal-kapal milik Silver JPL Klaveness (Hasanudin, 2014: 51). Sumber: - Hasanuddin. 2014. Pelayaran dan Perdagangan Gorontalo abad ke-18 dan 19. Yogyakarta: Penerbit Kepel Press. "
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Kediaman Asisten Residen
Deskripsi / Informasi
"Laan voor de assistent-residentswoning te Gorontalo", jalan menuju kompleks pemukiman Asisten Residen sekitar tahun 1910. Pola permukiman pejabat pemerintahan terletak khusus pada pusat kota, di sekitar kompleks didirikan pos pengaman untuk menjaga keamanan para penghuninya. KITLV 5940. "Berdasarkan sumber Joni Apriyanto dalam buku Sejarah Gorontalo Modern: Dari Hegemoni Kolonial Ke Provinsi (2012:73-74), rumah Asisten Residen ini sudah ada sejak tahun 1910. Di rumah ini juga Benny Corn sebagai Asisten Residen pada saat itu disergap oleh pasukan yang dipimpin oleh Nani Wartabone. Dengan pendekatan persuasif maka Asisten Residen Benny Corn menyerah tanpa perlawanan kepada pasukan Nani Wartabone tersebut. Sumber: - Joni Apriyanto. 2012. Sejarah Gorontalo Modern: Dari Hegemoni Kolonial Ke Provinsi. Yogyakarta: Ombak. "
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Kunjungan Gub.Jend.A.C.D de Graeff di Duane Gorontalo 1927
Deskripsi / Informasi
"Gouverneur-generaal A.C.D. de Graeff arriveert per auto bij het douaneterrein te Gorontalo, voorafgegaan door inwoners te paard" Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff tiba dengan mobil di lokasi pabean di Gorontalo, didahului oleh penduduk yang menunggang kuda. KITLV 11322. Dr. Andries Cornelies Dirk de Graeff adalah Gubernur Jenderal Hindi Belanda yang ke 60 pada tahun 1926-1931 (pada masa kekuasaan Belanda II 1816-1949). Pada tanggal 8 September 1927, terdapat berita dari koran "Nieusblad van het Noorden. No.211", Halaman 2, Kolom Gemengde Berichten (Pesan Campuran), yang secara garis besar memberitakan bahwa berdasarkan pesan telegram, Gubernur Jenderal bersama 10 orang lainnya akan melakukan perjalanan bisnis (mengunjungi) ke Makassar, Balikpapan, Donggala, Manado, Tarona, Gorontalo, Ternate, Bacan, Ambon, Banda, Tual, Kupang (Timor), Endeh (Flores) dan Bima. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar satu bulan. Selain itu terdapat pula informasi berita tentang perjalanan A.C.D de Graef ke Minahasa, Manado, Tomohon pada tanggal 20-23 September 1927 pada surat kabar "Twentsch Dagblad Tubantia en Enschedesche Courant. No.278" tertanggal 25 November 1927 yang menceritakan tentang, mulai dari persiapan penyambutan gubernur, penyambutan dilakukan secara besar-besaran dan meriah, serta kunjungan ke rumah-rumah ibadah, dan sekolah-sekolah. "Kedatangan de Graeff ke Gorontalo disambut dengan meriah oleh pembesar kerajaan Gorontalo, mulai dari irng-iringan penduduk dengan menggunakan kuda, hiasan-hiasan pada masjid Agung, pembuatan gerbang penyambutan di kampung Arab dan Cina. Setelah itu de Graeff mengadakan kunjungan ke daerah yang ada di sekitar Gorontalo. Sumber: - Koran bahasa belanda tertanggal 8 september 1927 Nieuwsblad van het Noordeen - Koran bahasa Belanda tertanggal 26 September 1927 Het Vadrland - Koran bahasa Belanda tertanggal 25 November 1927 Twentsch Dagblad Tubantia en Enschedesche"
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Masjid Raya di Kota Gorontalo 1927
Deskripsi / Informasi
"Versierde moskee in Kotta te Gorontalo ter gelegenheid van het bezoek van gouverneur-generaal A.C.D. de Graeff", Masjid yang didekorasi pada saat penyambutan kedatangan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff tahun 1927. KITLV 11326. Sejak masuknya Islam di Nusantara, masjid merupakan salah satu bangunan paling sentral di pusat-pusat kerajaan. Terbukti bahwa masjid dibangun berdekatan dengan bangunan pusat pemerintahan. Di kerajaan Gorontalo-pun demikian, secara historis masjid di Gorontalo dibangun bersamaan dengan pengenalan Islam (Syamsul Kurniawan, 2014: 169-184). Salah satu masjid yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Islam di Gorontalo adalah masjid Ibukota atau yang lebih dikenal pada era sekarang dengan nama masjid Baiturrahim Gorontalo. Sejak masa kolonial, masjid ini sudah menjadi pusat kegiatan agama Islam, sehingga tidak mengherankan masjid ini telah ditetapkan sebagai masjid Raya Provinsi Gorontalo. Pada tahun 1927, masjid ini yang didekorasi pada saat penyambutan kedatangan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff (Sumber : KITLV 11326) Masjid Agung Baiturrahim merupakan salah satu masjid tua yang dibangun di daerah Gorontalo. Masjid tersebut didirikan bersamaan dengan pembangunan Kota Gorontalo yang baru dipindahkan dari Dungingi ke Kota Gorontalo, tepatnya Kamis, 6 Syakban 1140 Hijriah atau 18 Maret 1728 M oleh Raja Botutihe, yakni Kepala Pemerintahan Batato Lo Hulondalo atau Kerajaan Gorontalo pada waktu itu (Inventarisasi Cagar Budaya, 2010). Masjid Agung Baiturrahim didirikan di pusat Pemerintahan Kerajaan (Batato), di antaranya Yiladiya (Rumah Raja), Bantayo Poboide (Balai Ruang / Balai Musyawarah), Loji (rumah kediaman Apitalawu atau Pejabat Keamanan Kerajaan), dan Bele Biya / Bele Tolotihu, yakni rumah-rumah pejabat kerajaan. Selanjutnya sesuai dengan perkembangan Pemerintahan dan masyarakat dan umat Islam, masjid yang sebelumnya menggunakan bahan dari kayu-kayuan, direnovasi dan dibangun kembali. Antara lain, tiang-tiangnya diganti dengan bangunan yang berfondasi dan berdinding batu pada tahun 1175 H atau 1761 Masehi oleh Raja Unonongo. Tebal dindingnya 0.80 meter. Pada tahun 1938 masjid tersebut hancur akibat gempa bumi yang dahsyat dan sejak saat itu pelaksanaan ibadah salat dan ibadah lainnya dilaksanakan pada bangunan darurat dekat masjid tersebut sampai dengan tahun 1946. Pada tahun 1946 dan 1947 diadakan pembangunan kembali masjid tersebut dipimpin oleh Abdullah Usman sebagai Pimpinan B.O.W (Inventarisasi Cagar Budaya, 2010). Pada tahun 1964 Masjid Agung Baiturrahim Gorontalo diperluas dengan penambahan serambi sebelah utara dan barat oleh panitia yang diketuai oleh T. Niode dan wakil ketuanya Haji Yusuf Polapa sebagai pelaksana harian. Tahun 1969 dibentuk lagi satu panitia yang baru yang diketuai oleh K.O. Naki, B.A. dan A. Naue sebagai pelaksana harian dan Kadi Abas Rauf sebagai pimpinan Ibadah. Perbaikan-perbaikan terus dilanjutkan di bawah pimpinan Sun Bone sampai pada bulan September 1979. Pada tahun 1982 dilakukan penambahan lokasi untuk jamaah wanita pada bagian selatan masjid oleh Bapak Drs. Haji Hasan Abas Nusi, Walikotamadya Gorontalo. Tahun 1988 dilakukan penataan pagar dan halaman oleh Bapak Drs. Ahmad Najamuddin, Walikotamadya KDH Tingkat II Gorontalo. Pada tahun 1996 diadakan penataan sumur bor sebagai tempat pengambilan air wudhu dan pendirian Menara Masjid oleh Bapak Drs. Hi. Ahmad Arbie, selaku Walikotamadya Tingkat II Gorontalo. Tahun 1999 dalam masa jabatan Walikotamadya Tingkat II Gorontalo Drs. Hi. Medi Botutihe, dilakukan pemugaran total Masjid Agung Baiturahim Kota Gorontalo, yang diresmikan oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie di Istana Merdeka, Rabu, 13 Oktober 1999 (3 Rajab 1420 H (Inventarisasi Cagar Budaya, 2010).
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Mempelai Gorontalo, 1910
Deskripsi / Informasi
"Bruidspaar uit de middenklasse te Gorontalo", pengantin kelas menengah di Gorontalo. KITLV 3895. "Adat perkawinan suku Gorontalo merupakan bagian hukum Gorontalo secara keseluruhan dan mempunyai item-item yang berhubungan dengan makna. Merupakan hak sebagai anggota masyarakat untuk memberlakukan adat kebesaran dalam pelaksanaan perkawinan yang suci dan sakral. Sejak zaman dahulu masyarakat Gorontalo melaksanakan dan menerapkan sendi-sendi adat serta segala atribut (baik tenda, baju pengantin dll) yang dibutuhkan dalam prosesi perkawinannya. Misalnya dari segi atribut yang digunakan kedua mempelai memang harus elegan dan terlihat sangat tradisional seperti yang terlihat pada foto mempelai yang diambil pada tahun 1910. Pada konteks lain, masyarakat Gorontalo terkenal teguh memegang nilai-nilai budaya leluhur, terutama nilai-nilai adat yang melekat dalam acara pernikahan, termasuk aturan warna atribut menghiasi busana pernikahan. Sumber : - Medi Botutihe & Farha Daulima. 2003. Tata Upacara Adat Gorontalo (Dari Upacara Kelahiran, Perkawinan, Penyambutan Tamu, Penobatan Dan Pemberian Gelar Adat Sampai Upacara Pemakaman). Gorontalo: Tanpa Penerbit "