Etnografi
Imported from master_kategoris#11
Baju Takowa
Baju takowa yang biasanya digunakan oleh pemangku adat dan laki-laki di acara adat Goronta...
1 SET TEMPAT ROKOK
1 SET TEMPAT ROKOK
Banggo
Sejenis parang dengan mata besi berbentuk panjang lurus, salah satu sisi dan ujungnya taja...
Batu Giling
Perkakas yang digunakan untuk melumatkan/menghancurkan bahan makanan seperti beras, jagung...
Batu Giling
Perkakas yang digunakan untuk melumatkan/menghancurkan bahan makanan seperti beras, jagung...
Bendi
Transportasi tradisional sejak zaman dahulu (tahun 1860) yang ditarik seekor kuda dengan u...
Bili'u
Bili’u adalah busana adat kebesaran yang dipakai oleh pengantin wanita. Bili’u mengadung m...
Bituo
Senjata bitu’o atau sejenis dengan keris pusaka mata besi berbentuk panjang berliku-liku...
Bitu'o
Sejenis keris pusaka dengan mata besi berbentuk panjang berliku-liku (Pitu lo letu = 7 lik...
Bubo'o (Cambuk)
Bubo'o (cambuk) adalah alat untuk mengendalikan sapi atau kuda.
Bulotu (perahu)
Bulotu dalam bahasa Gorontalo artinya perahu. Bahan baku perahu itu dari kayu besar. Perah...
Cetakan Kue
-
Baju Takowa
Deskripsi / Informasi
Baju takowa yang biasanya digunakan oleh pemangku adat dan laki-laki di acara adat Gorontalo.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Banggo
Deskripsi / Informasi
Sejenis parang dengan mata besi berbentuk panjang lurus, salah satu sisi dan ujungnya tajam. Pandungo terbuat dari kayu, berukiran seperti mulut ular dengan lidah pendek bercabang dua yang bermakna Banggo berbahaya seperti ular berbisa. Pasangannya sarung terbuat kayu disebut Ta’upo dengan pangkal sarung bermotif ujung kembang topi adat (Payungo). Motif ini bermakna pemegang Banggo tahu akan norma-norma adat istiadat Gorontalo.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Batu Giling
Deskripsi / Informasi
Perkakas yang digunakan untuk melumatkan/menghancurkan bahan makanan seperti beras, jagung, kacang hijau menjadi tepung. Terbuat dari batu dan pegangan dari besi. Cara penggunaannya,beras dimasukkan ke dalam lubang kemudian diputar secara manual menggunakan tangan dengan menarik kayu pegangan berputar secara berlawanan sesuai arah jarum jam. Selanjutnya bahan makanan akan keluar dari samping dalam bentuk bubuk/tepung.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Batu Giling
Deskripsi / Informasi
Perkakas yang digunakan untuk melumatkan/menghancurkan bahan makanan seperti beras, jagung, kacang hijau menjadi tepung. Terbuat dari batu dan merupakan alat tradisional masyarakat gorontalo. Cara penggunaannya,beras dimasukkan ke dalam lubang kemudian diputar secara manual menggunakan tangan dengan menarik kayu pegangan berputar secara berlawanan sesuai arah jarum jam. Selanjutnya bahan makanan akan keluar dari samping dalam bentuk bubuk/tepung.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Bendi
Deskripsi / Informasi
Transportasi tradisional sejak zaman dahulu (tahun 1860) yang ditarik seekor kuda dengan ukuran panjang 2,57 meter dan lebar 1 meter.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Bili'u
Deskripsi / Informasi
Bili’u adalah busana adat kebesaran yang dipakai oleh pengantin wanita. Bili’u mengadung makna bahwa sang gadis jadi pengantin, diangkat dan dinobatkan sebagai Ratu Rumah Tangga. Bili’u terdiri dari: 1. Baya lo Boute: yaitu ikat kepala yang memberikan dua pengertian: Bahwa sang ratu telah terikat dengan satu tangung jawab. Bahwa segala hasil pemikiran berdasarkan pertimbangan kebijaksanaan yang matang, untuk kepentingan orang banyak. 2. Layi-layi: yaitu bulu unggas yang banyak diletakkan pada ikat kepala bagian depan, tepat di atas ubun-ubun. Bulu unggas dikiaskan pada kehalusan budi pekerti yang luhu sebagaimana kehalusan bulu unggas. Layi-layi diberi warna merah muda, dan putih yang melambangkan keberanian dan kesucian. 3. Ponge-Mopa: yaitu tangkai-tangkai berjumlah 6 buah. Diibaratkan pada 6 orang Bubato atau pemangku adat yang terdiri 1 orang Baate, 1 orang Tuntungiyo/Wu’u, serta 4 orang Kimahala (pelaksana adat). “Dalam pengertian pada busana Bili’u, bahwa sang ratu berkewajiban untuk selalu menerima pertimbangan-pertimbangan aparat bawahan,”. 4. Pangge (4 buah): yaitu tongkat sebanyak 4 buah yang menghiasi bagian belakang dari ikatan kepala. Pangge mengartikan bahwa Sang Ratu berkewajiban untuk selalu menerima pertimbangan-pertimbangan aparat bawahan. 5. Tutuhi (tuhi-tuhi): yaitu galah sebanyak 7 buah yang panjangnya lebih besar dari yang lain. Tuhi-tuhi diibaratkan pada 2 kerajaan, yaitu “Hulontalo-Limutu, dan Limutu-Hulontalo”, serta lima kesatuan kerajaan. Yaitu Kerajaan Tuwawa (Suwawa); Kerajaan Limutu; Kerajaan Hulontalo; Kerajaan Bungalo; serta Kerajaan Atinggola. 6. Huli, yang artinya belakang. Yaitu hiasan yang disematkan pada bagian dari Bili’u, dan terdiri dari dua tangkai daun-daunan dan ditancapkan pada ujung kiri-kanan dari baalanga (rangka). “Huli diibaratkan pada dua jalur aparat adat yaitu pegawai syara’ dan Talenga (satuan pahlawan keamanan), Pulubala di Limboto,” 7. Duungo-Bitila yang artinya daun bitila (sukun). Sehelai daun bitila yang terbuat dari sepuhan emas tertancap pada baalanga bagian belakang. Hal itu bermakna pengayoman sang ratu terhadap rakyat. 8. Huwo’o yang artinya rambut, bentuknya terpotong-potong menjadi lima bagian yang dihubungkan oleh rantai antara satu dengan yang lain. Dalam penobatan ratu zaman dahulu biasanya memakai 7 potong atu 7 susun. “Adapun lima bagian yang dipakai sekarang ini diambil dari dua pengertian keharusan seorang Ratu untuk bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pengertian pertama dari lima suku kata Tauhid. Pengertian kedua dari lima rukun Islam”. 9. Taya, artinya timbangan atau dacing yang biasa juga disebut “Titimenga”. Dipasang pada kiri kanan bagian depan di samping mata. Pengertiannya bahwa sang Ratu harus berlaku adil. 10. Rumbai-rumbai yang menghiasi baya lo bo’ute, menggambarkan harapan rakyat pada pertimbangan kebijaksaan sang Ratu. 11. Bo’o Tunggohu yaitu baju kurung. Biasa juga disebut Bo’o Galenggo. Terdapat bagian-bagian yang menghias/menyempurnakan pada baju ini. yaitu: 1.) Kucubu Lo Duhelo, yaitu hiasan dada yang melapisi Bo’o Tunggohu, sebagai pembalut dada. Hiasan ini bermakna bahwa sang ratu dalam memimpin pemerintahan, harus dapat menahan nafsu amarah. Hiasan-hiasan berbentuk bintang dari emas, bermakna pancaran sinar kasih sayang, dan cinta kepada rakyat dan negeri. 2.) Kucubu Lo Ulu’u, yang disebut Petu, yang membalut ujung lengan baju yang bermakna dari tangan sang Ratu akan terwujud karya-karya yang bermanfaat bagi orang banyak. 3). Pateda, atau gelang-gelang lebar yang menghiasi lengan tangan sang Ratu, bermakna sang Ratu menjauhi tindakan-tindakan yang menyusahkan rakyat, termasuk menerima sogokan, atau menerima hasil tadahan. 4.) Wulu Wawu Dehu artinya kalung bersusun, yang bermakna peringatan kepada sang Ratu, bahwa perbuatan yang terlarang, maka sanksinya adalah tiang gantungan, dengan tali lilitan sebagaimana lilitan kalungnya. Kalung ini disebut juga Bu’ohu. 5.) Lu’ohu atau Kula: sejenis cincin, yang hanya dipakai pada jari manis dan kelinking pada kedua belah tangan kiri dan kanan. “Pada jari manis bermakna adalah budi pekerti yang baik. Sementara pada jari kelingking adalah memerhatikan kepentingan rakyat kecil.” Sumber : - Ishak Bumulo ( Wawancara, 8 Oktober 2020, Umur 65 Tahun, Pekerjaan Sebagai Pemangku Adat). - HI. Medi botutihe. Parha daulima.2003. Tata Upacara Adat Gorontalo. Gorontalo
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Bituo
Deskripsi / Informasi
Senjata bitu’o atau sejenis dengan keris pusaka mata besi berbentuk panjang berliku-liku (pitu lo letu= 7 liku-liku) dan dua sisi ujungnya sangat tajam. Pangkalnya lebih lebar . Pandungo di ukir berbentuk kepala ayam ( berbalung ) yang bermakna keberanian ayam jantan yang selalu ingin menang ( mematikan lawan. Pasangan buti’o adalah sarung kayu hitam yang dililit kain pita merah yang bermakna semangat pemberani.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Bitu'o
Deskripsi / Informasi
Sejenis keris pusaka dengan mata besi berbentuk panjang berliku-liku (Pitu lo letu = 7 liku-liku) dan dua sisi ujungnya sangat tajam. Pangkalnya lebih lebar. Pandungo diukir berbentuk kepala ayam jantan (berbalung) yang bermakna keberanian ayam jantan yang selalu ingin menang (mematikan lawan). Pasangan Bitu'o adalah sarung kayu hitam yang dililit kain pita merah yang bermakna semangat pemberani. Kesaktian yang dimiliki oleh Bitu’o yaitu senjata ini terkesan panas, memiliki kekuatan melumpuhkan lawan, jika dipertapakan maka kekuatan keris dapat menolak segala penyakit. Pantangan senjata ini adalah tidak boleh disimpan di sembarangan tempat, harus tersembunyi; tidak boleh menjadi barang mainan; tidak boleh digunakan untuk peragaan tari dan sejenisnya; dan tidak boleh disentuh oleh wanita atau banci.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Bubo'o (Cambuk)
Deskripsi / Informasi
Bubo'o (cambuk) adalah alat untuk mengendalikan sapi atau kuda.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Bulotu (perahu)
Deskripsi / Informasi
Bulotu dalam bahasa Gorontalo artinya perahu. Bahan baku perahu itu dari kayu besar. Perahu menggunakan kayu utuh yang dibentuk menjadi perahu, bagian tengah dan bagian luar kayu dihilangkan, sehingga membentuk perahu utuh tanpa sambungan kayu.