Semua Informasi & Layanan
Jelajahi seluruh data, layanan, dan informasi publik yang terstruktur.
Patung Jalaludin Tantu
Letkol Pnb (Anumerta) Djalaludin Tantu (lahir di Gorontalo, tanggal tidak diketahui - meni...
Foto Gerbang Kehormatan di Jembatan Talumolo 1927
"Erepoort op de Taloemolobrug te Gorontalo ter gelegenheid van de komst van gouverneur-gen...
Koin 10 Sen Tahun 1951 bergambar Garuda Pancasila
Bahan aluminium, bentuk bulat. Bagian depan terdapat lambang nasional Indonesia Garuda Pa...
Prangko 10 Rp PELITA Tahun 1969
Prangko 10 Rp PELITA tahun 1969 "Prangko bergambar keluarga sedang bersantai. Seri Rencan...
TEMPAT LILIN KUNINGAN (1 Lilin)
TEMPAT LILIN KUNINGAN (1 Lilin)
Uang Kertas 1000 Rupiah Tahun 1987 Bergambar Raja Sisingamangraja XII
Uang Kertas Tahun 1987 Bergambar Raja Sisimangaraja XII dibagian depan , Keraton jogjakart...
Pengeras Suara
"Peninggalan zaman kolonial Belanda yaitu sebuah alat untuk mengumpulkan massa (pengeras s...
Bendera Merah Putih
Bendera Merah Putih yang digunakan di alun-alun kota Gorontalo. Menjelang pukul 10.00 pagi...
TUMBUK LISUNG (HITAM)
Pelengkap PAKINANGAN
LUKISAN TRAGEDI BENTENG OTANAHA
Lukisan yang menggambarkan peristiwa pertempuran di Benteng Otanaha. Media kanvas ukuran 8...
Foto Rumah Bersalin
Foto Rumah Bersalin (gedung ini sempat difungsikan sebagai Kantor Damri dan dibongkar guna...
Selongsong Peluru
-
Patung Jalaludin Tantu
Deskripsi / Informasi
Letkol Pnb (Anumerta) Djalaludin Tantu (lahir di Gorontalo, tanggal tidak diketahui - meninggal di (diduga) Selat Karimata, 2 September 1964) adalah seorang penerbang TNI Angkatan Udara, yang gugur saat menjalankan tugas menerbangkan pesawat Hercules C-130B berkode ekor (tail code) T-1307 dalam misi penerjunan pasukan payung ke Kalimantan Utara (Malaysia) pada masa kampanye Dwikora. Beliau adalah orang Gorontalo pertama yang menjadi kapten du Angkatan Udara Republik Indonesia. Namanya diabadikan sebagai nama Pangkalan Udara TNI AU dengan nama Lanud Djalaludin Tantu dan pelabuhan udara di Gorontalo.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Gerbang Kehormatan di Jembatan Talumolo 1927
Deskripsi / Informasi
"Erepoort op de Taloemolobrug te Gorontalo ter gelegenheid van de komst van gouverneur-generaal A.C.D. de Graeff", gerbang kehormatan di jembatan Talumolo pada saat kedatangan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff tahun 1927. KITLV 11323. Dr. Andries Cornelies Dirk de Graeff adalah Gubernur Jenderal Hindi Belanda yang ke 60 pada tahun 1926-1931 (pada masa kekuasaan Belanda II 1816-1949). Pada tanggal 8 September 1927, terdapat berita dari koran "Nieusblad van het Noorden. No.211", Halaman 2, Kolom Gemengde Berichten (Pesan Campuran), yang secara garis besar memberitakan bahwa berdasarkan pesan telegram, Gubernur Jenderal bersama 10 orang lainnya akan melakukan perjalanan bisnis (mengunjungi) ke Makassar, Balikpapan, Donggala, Manado, Tarona, Gorontalo, Ternate, Bacan, Ambon, Banda, Tual, Kupang (Timor), Endeh (Flores) dan Bima. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar satu bulan. Selain itu terdapat pula informasi berita tentang perjalanan A.C.D de Graef ke Minahasa, Manado, Tomohon pada tanggal 20-23 September 1927 pada surat kabar "Twentsch Dagblad Tubantia en Enschedesche Courant. No.278" tertanggal 25 November 1927 yang menceritakan tentang, mulai dari persiapan penyambutan gubernur, penyambutan dilakukan secara besar-besaran dan meriah, serta kunjungan ke rumah-rumah ibadah, dan sekolah-sekolah. "Kedatangan de Graeff ke Gorontalo disambut dengan meriah oleh pembesar kerajaan Gorontalo, mulai dari irng-iringan penduduk dengan menggunakan kuda, hiasan-hiasan pada masjid Agung, pembuatan gerbang penyambutan di kampung Arab dan Cina. Setelah itu de Graeff mengadakan kunjungan ke daerah yang ada di sekitar Gorontalo. Sumber: - Koran bahasa belanda tertanggal 8 september 1927 Nieuwsblad van het Noordeen - Koran bahasa Belanda tertanggal 26 September 1927 Het Vadrland - Koran bahasa Belanda tertanggal 25 November 1927 Twentsch Dagblad Tubantia en Enschedesche"
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Koin 10 Sen Tahun 1951 bergambar Garuda Pancasila
Deskripsi / Informasi
Bahan aluminium, bentuk bulat. Bagian depan terdapat lambang nasional Indonesia Garuda Pancasila dengan tulisan Arab BHINNEKA TUNGGAL IKA yang berarti “Indonesia, walau berbeda tetap satu”. Bagian belakang terdapat nilai mata uang dalam desain bergerigi bertuliskan INDONESIA 10 SEN 1951. Koleksi ini didapatkan dari masyarakat dengan cara ganti rugi pada tahun 2015, memiliki diameter 23,5 mm, ketebalan 2 mm, dan bobot 1,7 gr.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Prangko 10 Rp PELITA Tahun 1969
Deskripsi / Informasi
Prangko 10 Rp PELITA tahun 1969 "Prangko bergambar keluarga sedang bersantai. Seri Rencana Pembangunan Lima Tahun. Diedarkan pada tanggal 27 September 1969. Prangko ini memuat : Tulisan nominal ""10,-"" Tulisan ""PELITA"" Tulisan ""REPUBLIK INDONESIA"""
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
TEMPAT LILIN KUNINGAN (1 Lilin)
Deskripsi / Informasi
TEMPAT LILIN KUNINGAN (1 Lilin)
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Uang Kertas 1000 Rupiah Tahun 1987 Bergambar Raja Sisingamangraja XII
Deskripsi / Informasi
Uang Kertas Tahun 1987 Bergambar Raja Sisimangaraja XII dibagian depan , Keraton jogjakarta dibagian belakang dengan tanda air sultan Hasanudin
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Pengeras Suara
Deskripsi / Informasi
"Peninggalan zaman kolonial Belanda yaitu sebuah alat untuk mengumpulkan massa (pengeras suara) yang terbuat dari bahan kuningan. Alat ini pernah digunakan oleh Alexander (Sander) Uno, marsaoleh/pemimpin onder-distrik Kwandang pada awal abad XX. Sander Uno yang merupakan leluhur Sandiaga Uno adalah salah satu pemimpin yang berperan dalam pembuatan jalan penghubung Kwandang dan Limboto. Bersama pemimpin Limboto, Gorontalo dan Suwawa, Sander Uno membuat jalan puluhan kilometer yang menghubungkan Kwandang hingga Limboto pada awal abad XX. Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Sebut Sandiaga Uno Keturunan Raja Gorontalo, Warga Sambut Gembira Pelantikan"", https://regional.kompas.com/read/2017/10/16/15571461/sebut-sandiaga-uno-keturunan-raja-gorontalo-warga-sambut-gembira-pelantikan. Penulis : Kontributor Gorontalo, Rosyid A Azhar"
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Bendera Merah Putih
Deskripsi / Informasi
Bendera Merah Putih yang digunakan di alun-alun kota Gorontalo. Menjelang pukul 10.00 pagi tanggal 23 Januari 1942 atau 5 jam setelah operasi penangkapan dilakukan, massa berkumpul di alun-alun (lapangan Taruna Remaja sekarang) berkumpul mengikuti proses penaikan bendera Merah Putih (ANRI) dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
LUKISAN TRAGEDI BENTENG OTANAHA
Deskripsi / Informasi
Lukisan yang menggambarkan peristiwa pertempuran di Benteng Otanaha. Media kanvas ukuran 86 cm x 86 cm. Dihibahkan oleh Universitas Negeri Gorontalo tahun 2016.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Rumah Bersalin
Deskripsi / Informasi
Foto Rumah Bersalin (gedung ini sempat difungsikan sebagai Kantor Damri dan dibongkar guna dijadikan Hotel Grand Q). "Merujuk tulisan Nurnaningsih N. Abdul dan Sri Sutarni Arifin (2017) bahwa informasi terkait Rumah sakit bersalin tahun 1900an, diketahui bahwa setelah bangunan ini tidak difungsikan lagi sebagai rumah sakit, bangunan ini pernah menjadi kantor Damri, dan pada tahun 2003 beralihfungsi menjadi hotel Quality dengan gaya arsitektur yang baru. Selanjutnya pada tahun 2013 hingga saat ini berubah nama menjadi Grand Q Hotel. Sumber : - Nurnaningsih N. Abdul dan Sri Sutarni Arifin. Inventarisasi dan Dokumentasi Ragam Pusaka Arsitektur pada Kawasan Kota Tua Gorontalo. Prosiding Seminar Nasional Arsitektur Populis. 20 September 2017. ISBN: 978-602-6865-41-0 "