Semua Informasi & Layanan
Jelajahi seluruh data, layanan, dan informasi publik yang terstruktur.
TEMPAYAN LUDAH KECIL
TEMPAYAN LUDAH KECIL
Prangko 110 Rp Hari Anak - anak Nasional Tahun 1984
Prangko bergambar anak-anak sedang berkemah. Diedarkan pada tanggal 17 Juni 1984. Prangko...
LUKISAN PERANG PANIPI
Media kanvas ukuran 86 cm x 86 cm. Dihibahkan oleh Universitas Negeri Gorontalo tahun 2016...
VAS BUNGA KECIL
VAS BUNGA KECIL
Batu Giling
Perkakas yang digunakan untuk melumatkan/menghancurkan bahan makanan seperti beras, jagung...
1/10 Golden Tahun 1945
Bahan perak, bentuk bulat. Bagian depan terdapat elemen bunga dengan tulisan Arab yang ber...
Prangko 2500 Rp tahun 1998
Prangko bergambar 2 ekor belibis polos (Dendrocygna Javanica). Diedarkan pada tanggal 1 De...
Foto Masjid Raya di Kota Gorontalo 1927
"Versierde moskee in Kotta te Gorontalo ter gelegenheid van het bezoek van gouverneur-gene...
Uang Kertas 1000 Rupiah Tahun 1975 Bergambar Pangeran Diponegoro
Uang Kertas Tahun 1975 Bergambar Pangeran Diponegoro dibagian depan petani membajak sawah...
Koin 2 Rupiah Tahun 1970 Bergambar Padi dan Kapas
Bahan aluminium, bentuk bulat. Bagian depan terdapat tulisan Rp 2 di atas gambar padi dan...
LUKISAN "APULU"
Lukisan karya Affandi Rais tahun 2016 dengan media kanvas ukuran 60 cm x 85 cm.
Payunga
Payunga (disebut juga Payunga Tilabatayila) pakaian tradisional Gorontalo yang digunakan o...
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Prangko 110 Rp Hari Anak - anak Nasional Tahun 1984
Deskripsi / Informasi
Prangko bergambar anak-anak sedang berkemah. Diedarkan pada tanggal 17 Juni 1984. Prangko ini memuat : Tulisan "HARI ANAK-ANAK NASIONAL" Tulisan nominal "110,-" Tulisan "+25,-" Tulisan "REPUBLIK INDONESIA"
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
LUKISAN PERANG PANIPI
Deskripsi / Informasi
Media kanvas ukuran 86 cm x 86 cm. Dihibahkan oleh Universitas Negeri Gorontalo tahun 2016.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Batu Giling
Deskripsi / Informasi
Perkakas yang digunakan untuk melumatkan/menghancurkan bahan makanan seperti beras, jagung, kacang hijau menjadi tepung. Terbuat dari batu dan pegangan dari besi. Cara penggunaannya,beras dimasukkan ke dalam lubang kemudian diputar secara manual menggunakan tangan dengan menarik kayu pegangan berputar secara berlawanan sesuai arah jarum jam. Selanjutnya bahan makanan akan keluar dari samping dalam bentuk bubuk/tepung.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
1/10 Golden Tahun 1945
Deskripsi / Informasi
Bahan perak, bentuk bulat. Bagian depan terdapat elemen bunga dengan tulisan Arab yang berarti sepersepuluh rupiah.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Prangko 2500 Rp tahun 1998
Deskripsi / Informasi
Prangko bergambar 2 ekor belibis polos (Dendrocygna Javanica). Diedarkan pada tanggal 1 Desember 1998. Prangko ini memuat : Tulisan "BELIBIS POLOS Dendrocygna Javanica" Tulisan nominal "2500,-" Tulisan tahun penerbitan Tulisan "REPUBLIK INDONESIA"
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Masjid Raya di Kota Gorontalo 1927
Deskripsi / Informasi
"Versierde moskee in Kotta te Gorontalo ter gelegenheid van het bezoek van gouverneur-generaal A.C.D. de Graeff", Masjid yang didekorasi pada saat penyambutan kedatangan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff tahun 1927. KITLV 11326. Sejak masuknya Islam di Nusantara, masjid merupakan salah satu bangunan paling sentral di pusat-pusat kerajaan. Terbukti bahwa masjid dibangun berdekatan dengan bangunan pusat pemerintahan. Di kerajaan Gorontalo-pun demikian, secara historis masjid di Gorontalo dibangun bersamaan dengan pengenalan Islam (Syamsul Kurniawan, 2014: 169-184). Salah satu masjid yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Islam di Gorontalo adalah masjid Ibukota atau yang lebih dikenal pada era sekarang dengan nama masjid Baiturrahim Gorontalo. Sejak masa kolonial, masjid ini sudah menjadi pusat kegiatan agama Islam, sehingga tidak mengherankan masjid ini telah ditetapkan sebagai masjid Raya Provinsi Gorontalo. Pada tahun 1927, masjid ini yang didekorasi pada saat penyambutan kedatangan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff (Sumber : KITLV 11326) Masjid Agung Baiturrahim merupakan salah satu masjid tua yang dibangun di daerah Gorontalo. Masjid tersebut didirikan bersamaan dengan pembangunan Kota Gorontalo yang baru dipindahkan dari Dungingi ke Kota Gorontalo, tepatnya Kamis, 6 Syakban 1140 Hijriah atau 18 Maret 1728 M oleh Raja Botutihe, yakni Kepala Pemerintahan Batato Lo Hulondalo atau Kerajaan Gorontalo pada waktu itu (Inventarisasi Cagar Budaya, 2010). Masjid Agung Baiturrahim didirikan di pusat Pemerintahan Kerajaan (Batato), di antaranya Yiladiya (Rumah Raja), Bantayo Poboide (Balai Ruang / Balai Musyawarah), Loji (rumah kediaman Apitalawu atau Pejabat Keamanan Kerajaan), dan Bele Biya / Bele Tolotihu, yakni rumah-rumah pejabat kerajaan. Selanjutnya sesuai dengan perkembangan Pemerintahan dan masyarakat dan umat Islam, masjid yang sebelumnya menggunakan bahan dari kayu-kayuan, direnovasi dan dibangun kembali. Antara lain, tiang-tiangnya diganti dengan bangunan yang berfondasi dan berdinding batu pada tahun 1175 H atau 1761 Masehi oleh Raja Unonongo. Tebal dindingnya 0.80 meter. Pada tahun 1938 masjid tersebut hancur akibat gempa bumi yang dahsyat dan sejak saat itu pelaksanaan ibadah salat dan ibadah lainnya dilaksanakan pada bangunan darurat dekat masjid tersebut sampai dengan tahun 1946. Pada tahun 1946 dan 1947 diadakan pembangunan kembali masjid tersebut dipimpin oleh Abdullah Usman sebagai Pimpinan B.O.W (Inventarisasi Cagar Budaya, 2010). Pada tahun 1964 Masjid Agung Baiturrahim Gorontalo diperluas dengan penambahan serambi sebelah utara dan barat oleh panitia yang diketuai oleh T. Niode dan wakil ketuanya Haji Yusuf Polapa sebagai pelaksana harian. Tahun 1969 dibentuk lagi satu panitia yang baru yang diketuai oleh K.O. Naki, B.A. dan A. Naue sebagai pelaksana harian dan Kadi Abas Rauf sebagai pimpinan Ibadah. Perbaikan-perbaikan terus dilanjutkan di bawah pimpinan Sun Bone sampai pada bulan September 1979. Pada tahun 1982 dilakukan penambahan lokasi untuk jamaah wanita pada bagian selatan masjid oleh Bapak Drs. Haji Hasan Abas Nusi, Walikotamadya Gorontalo. Tahun 1988 dilakukan penataan pagar dan halaman oleh Bapak Drs. Ahmad Najamuddin, Walikotamadya KDH Tingkat II Gorontalo. Pada tahun 1996 diadakan penataan sumur bor sebagai tempat pengambilan air wudhu dan pendirian Menara Masjid oleh Bapak Drs. Hi. Ahmad Arbie, selaku Walikotamadya Tingkat II Gorontalo. Tahun 1999 dalam masa jabatan Walikotamadya Tingkat II Gorontalo Drs. Hi. Medi Botutihe, dilakukan pemugaran total Masjid Agung Baiturahim Kota Gorontalo, yang diresmikan oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie di Istana Merdeka, Rabu, 13 Oktober 1999 (3 Rajab 1420 H (Inventarisasi Cagar Budaya, 2010).
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Uang Kertas 1000 Rupiah Tahun 1975 Bergambar Pangeran Diponegoro
Deskripsi / Informasi
Uang Kertas Tahun 1975 Bergambar Pangeran Diponegoro dibagian depan petani membajak sawah dibagian belakang dengan tanda air gajah mada
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Koin 2 Rupiah Tahun 1970 Bergambar Padi dan Kapas
Deskripsi / Informasi
Bahan aluminium, bentuk bulat. Bagian depan terdapat tulisan Rp 2 di atas gambar padi dan kapas. Bagian belakang terdapat elemen bintang dan nilai mata uang bertuliskan: BANK INDONESIA 2 RUPIAH 1970. Diameter 26 mm, berat 2,29 gr. Diperoleh dengan cara “ganti rugi” serta masuk ke museum pada tahun 2015.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
LUKISAN "APULU"
Deskripsi / Informasi
Lukisan karya Affandi Rais tahun 2016 dengan media kanvas ukuran 60 cm x 85 cm.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Payunga
Deskripsi / Informasi
Payunga (disebut juga Payunga Tilabatayila) pakaian tradisional Gorontalo yang digunakan oleh laki-laki. Payunga digunakan pada saat: -) Upacara adat Moluna (khitan) -) Upacara Akaji atau Ijab Kabul pada acara akad nikah -) Upacara adat Molontalo (upacara adat selamatan 7 bulan kehamilan) -) Upacara adat Pulanga: pada upacara pulanga (pemberian gelar adat kepada seseorang yang memiliki karya bakti kepada tanah leluhur, bangsa, dan negara).