Semua Informasi & Layanan
Jelajahi seluruh data, layanan, dan informasi publik yang terstruktur.
Bili'u
Bili’u adalah busana adat kebesaran yang dipakai oleh pengantin wanita. Bili’u mengadung m...
WAJAN/PENGGORENGAN
WAJAN/PENGGORENGAN
Eputo
Eputo merupakan salah satu alat tradisional gorontalo yang berupa perngkap ikan atau jarin...
Mangkuk Persegi/wadah tertutup
Keramik Eropa abad 19 M
Koin 25 Rupiah Tahun 1971 bergambar Burung Mambruk Victoria (Goura Victoria)
Bahan tembaga-nikel, bentuk bulat. Bagian depan terdapat tulisan Rp 25 di bawah gambar bu...
Prangko 1000 tahun 2000
Prangko bergambar wajah anak kecil. Warna kombinasi ungu dan abu-abu. Diedarkan pada tangg...
Koin 25 Rupiah Tahun 1971 bergambar Burung Mambruk Victoria
Bahan tembaga-nikel, bentuk bulat. Bagian depan terdapat tulisan Rp 25 di bawah gambar bur...
Mangkuk
Mangkuk Cina (modern)
TEMPAT LILIN KUNINGAN (5 Lilin)
TEMPAT LILIN KUNINGAN (5 Lilin)
Prangko 1500 Rp tahun 2003
Prangko memuat foto Bapak Bahrudin Puyo, S.Pd, seorang guru berprestasi tingkat Nasional t...
Totobu'o Yilambuwa
Sejenis tombak dengan bentuk mata besi runcing dan sisi-sisinya tajam. Pandungo senjata be...
Foto Raja Zainal Abidin Monoarfa 1870
"Portret van Monoarfa, Radja van Gorontalo", foto Raja van Monoarfa tahun 1872, Raja Zaina...
Bili'u
Deskripsi / Informasi
Bili’u adalah busana adat kebesaran yang dipakai oleh pengantin wanita. Bili’u mengadung makna bahwa sang gadis jadi pengantin, diangkat dan dinobatkan sebagai Ratu Rumah Tangga. Bili’u terdiri dari: 1. Baya lo Boute: yaitu ikat kepala yang memberikan dua pengertian: Bahwa sang ratu telah terikat dengan satu tangung jawab. Bahwa segala hasil pemikiran berdasarkan pertimbangan kebijaksanaan yang matang, untuk kepentingan orang banyak. 2. Layi-layi: yaitu bulu unggas yang banyak diletakkan pada ikat kepala bagian depan, tepat di atas ubun-ubun. Bulu unggas dikiaskan pada kehalusan budi pekerti yang luhu sebagaimana kehalusan bulu unggas. Layi-layi diberi warna merah muda, dan putih yang melambangkan keberanian dan kesucian. 3. Ponge-Mopa: yaitu tangkai-tangkai berjumlah 6 buah. Diibaratkan pada 6 orang Bubato atau pemangku adat yang terdiri 1 orang Baate, 1 orang Tuntungiyo/Wu’u, serta 4 orang Kimahala (pelaksana adat). “Dalam pengertian pada busana Bili’u, bahwa sang ratu berkewajiban untuk selalu menerima pertimbangan-pertimbangan aparat bawahan,”. 4. Pangge (4 buah): yaitu tongkat sebanyak 4 buah yang menghiasi bagian belakang dari ikatan kepala. Pangge mengartikan bahwa Sang Ratu berkewajiban untuk selalu menerima pertimbangan-pertimbangan aparat bawahan. 5. Tutuhi (tuhi-tuhi): yaitu galah sebanyak 7 buah yang panjangnya lebih besar dari yang lain. Tuhi-tuhi diibaratkan pada 2 kerajaan, yaitu “Hulontalo-Limutu, dan Limutu-Hulontalo”, serta lima kesatuan kerajaan. Yaitu Kerajaan Tuwawa (Suwawa); Kerajaan Limutu; Kerajaan Hulontalo; Kerajaan Bungalo; serta Kerajaan Atinggola. 6. Huli, yang artinya belakang. Yaitu hiasan yang disematkan pada bagian dari Bili’u, dan terdiri dari dua tangkai daun-daunan dan ditancapkan pada ujung kiri-kanan dari baalanga (rangka). “Huli diibaratkan pada dua jalur aparat adat yaitu pegawai syara’ dan Talenga (satuan pahlawan keamanan), Pulubala di Limboto,” 7. Duungo-Bitila yang artinya daun bitila (sukun). Sehelai daun bitila yang terbuat dari sepuhan emas tertancap pada baalanga bagian belakang. Hal itu bermakna pengayoman sang ratu terhadap rakyat. 8. Huwo’o yang artinya rambut, bentuknya terpotong-potong menjadi lima bagian yang dihubungkan oleh rantai antara satu dengan yang lain. Dalam penobatan ratu zaman dahulu biasanya memakai 7 potong atu 7 susun. “Adapun lima bagian yang dipakai sekarang ini diambil dari dua pengertian keharusan seorang Ratu untuk bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pengertian pertama dari lima suku kata Tauhid. Pengertian kedua dari lima rukun Islam”. 9. Taya, artinya timbangan atau dacing yang biasa juga disebut “Titimenga”. Dipasang pada kiri kanan bagian depan di samping mata. Pengertiannya bahwa sang Ratu harus berlaku adil. 10. Rumbai-rumbai yang menghiasi baya lo bo’ute, menggambarkan harapan rakyat pada pertimbangan kebijaksaan sang Ratu. 11. Bo’o Tunggohu yaitu baju kurung. Biasa juga disebut Bo’o Galenggo. Terdapat bagian-bagian yang menghias/menyempurnakan pada baju ini. yaitu: 1.) Kucubu Lo Duhelo, yaitu hiasan dada yang melapisi Bo’o Tunggohu, sebagai pembalut dada. Hiasan ini bermakna bahwa sang ratu dalam memimpin pemerintahan, harus dapat menahan nafsu amarah. Hiasan-hiasan berbentuk bintang dari emas, bermakna pancaran sinar kasih sayang, dan cinta kepada rakyat dan negeri. 2.) Kucubu Lo Ulu’u, yang disebut Petu, yang membalut ujung lengan baju yang bermakna dari tangan sang Ratu akan terwujud karya-karya yang bermanfaat bagi orang banyak. 3). Pateda, atau gelang-gelang lebar yang menghiasi lengan tangan sang Ratu, bermakna sang Ratu menjauhi tindakan-tindakan yang menyusahkan rakyat, termasuk menerima sogokan, atau menerima hasil tadahan. 4.) Wulu Wawu Dehu artinya kalung bersusun, yang bermakna peringatan kepada sang Ratu, bahwa perbuatan yang terlarang, maka sanksinya adalah tiang gantungan, dengan tali lilitan sebagaimana lilitan kalungnya. Kalung ini disebut juga Bu’ohu. 5.) Lu’ohu atau Kula: sejenis cincin, yang hanya dipakai pada jari manis dan kelinking pada kedua belah tangan kiri dan kanan. “Pada jari manis bermakna adalah budi pekerti yang baik. Sementara pada jari kelingking adalah memerhatikan kepentingan rakyat kecil.” Sumber : - Ishak Bumulo ( Wawancara, 8 Oktober 2020, Umur 65 Tahun, Pekerjaan Sebagai Pemangku Adat). - HI. Medi botutihe. Parha daulima.2003. Tata Upacara Adat Gorontalo. Gorontalo
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Eputo
Deskripsi / Informasi
Eputo merupakan salah satu alat tradisional gorontalo yang berupa perngkap ikan atau jaring ikan. Eputo berbahan dasar bambu yang dibelah menjadi berhelai helai dan dianyam meyerupai jaring ada juga eputo yang berbahan dasar rotan, namun jarang dipakai. Karena perkembangan zaman yang begitu pesat, eputo sudah mulai ditinggalkan karena sudah digantikan dengan jaring nilon yang lebih efisien dalam menangkap ikan. Biasanya masyarakat sekitar danau limboto menggunakan eputo untuk menagkap kepiting dan lele. Eputo sudah mulai digunakan sebelum daerah gorontalo dikuasai oleh para penjajah.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Mangkuk Persegi/wadah tertutup
Deskripsi / Informasi
Keramik Eropa abad 19 M
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Koin 25 Rupiah Tahun 1971 bergambar Burung Mambruk Victoria (Goura Victoria)
Deskripsi / Informasi
Bahan tembaga-nikel, bentuk bulat. Bagian depan terdapat tulisan Rp 25 di bawah gambar burung Mambruk Victoria atau nama ilmiahnya Goura Victoria adalah sejenis burung yang terdapat dalam suku burung Columbidae dan salah satu dari tiga burung dara mahkota serta merupakan spesies terbesar di antara jenis-jenis burung merpati. Populasi Mambruk Victoria tersebar di hutan dataran rendah, hutan sagu dan hutan rawa di bagian utara pulau Irian, termasuk pulau Yapen, pulau Biak, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Bagian belakang terdapat elemen bintang dan nilai mata uang bertuliskan: BANK Indonesia 25 RUPIAH 1971. Diameter 20 mm, tebal 1,4 mm, dan berat 3,52 gr. Koleksi diperoleh dengan cara ganti rugi dan masuk di museum tahun 2015.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Prangko 1000 tahun 2000
Deskripsi / Informasi
Prangko bergambar wajah anak kecil. Warna kombinasi ungu dan abu-abu. Diedarkan pada tanggal 1 Januari 2000. Prangko ini memuat : Tulisan "MILENIUM BARU" Tulisan nominal "1000" Tulisan Tahun Penerbitan Tulisan "INDONESIA"
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Koin 25 Rupiah Tahun 1971 bergambar Burung Mambruk Victoria
Deskripsi / Informasi
Bahan tembaga-nikel, bentuk bulat. Bagian depan terdapat tulisan Rp 25 di bawah gambar burung Mambruk Victoria atau nama ilmiahnya Goura Victoria adalah sejenis burung yang terdapat dalam suku burung Columbidae dan salah satu dari tiga burung dara mahkota serta merupakan spesies terbesar di antara jenis-jenis burung merpati. Populasi Mambruk Victoria tersebar di hutan dataran rendah, hutan sagu dan hutan rawa di bagian utara pulau Irian, termasuk pulau Yapen, pulau Biak, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
TEMPAT LILIN KUNINGAN (5 Lilin)
Deskripsi / Informasi
TEMPAT LILIN KUNINGAN (5 Lilin)
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Prangko 1500 Rp tahun 2003
Deskripsi / Informasi
Prangko memuat foto Bapak Bahrudin Puyo, S.Pd, seorang guru berprestasi tingkat Nasional tahun 2001. Prangko ini memuat : Tulisan nominal "1500,-" Tulisan "INDONESIA"
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Totobu'o Yilambuwa
Deskripsi / Informasi
Sejenis tombak dengan bentuk mata besi runcing dan sisi-sisinya tajam. Pandungo senjata berbentuk silinder panjang. Yilambuwa yang digunakan pada senjata ini harus diambil dari pohon enau yang pertama kali berbuah (bohulio mo mungo). Rambu-rambu (yilambuwa) dari serat enau hitam bermakna bahwa pemegang senjata ini adalah keturunan atau keluarga Raja (marga pria, bukan marga wanita). Kesaktian senjata ini adalah kadang-kadang mengeluarkan cahaya berkilap-kilap dan dapat dilempar dengan tenaga dalam melayang-layang sejauh kehendak pelempar. Pantangan senjata adalah tidak boleh disimpan dengan posisi mata besi ke bawah, tidak boleh disentuh wanita dan tidak boleh mengambil yilambuwa dari pohon enau yang telah berbuah kedua atau kedua kali.
Rincian Atribut
jenis_koleksi
sejarah
keaslian
bahan
keutuhan
bentuk
kondisi
warna
Foto Raja Zainal Abidin Monoarfa 1870
Deskripsi / Informasi
"Portret van Monoarfa, Radja van Gorontalo", foto Raja van Monoarfa tahun 1872, Raja Zainal Abidin Al-Habsyi Monoarfa/Raja Gorontalo To Tilayo (1859-1878). Raja terakhir Gorontalo, meninggal Maret 1878; selanjutnya Gorontalo di bawah kekuasaan Kolonial Belanda menjadi afdeelingGorontalo dengan Asisten Residen sebagai penguasa. KITLV 155840. Setelah meninggalnya Raja Abdullah Monoarfa yang bergelar Ta To Masjidi kekuasan pribumi dijabat Raja Zainal Abidin Monoarfa dan dialah sebagai Raja terakhir dalam sejarah pemerintahan kerajaan Gorontalo. Pada masa kekuasaannya kedudukan kerajaan mengalami kemerosotan kekuasaan, sehingga perlahan kekuasaan cenderung dilaksanakan dalam setiap distrik, sehingga walaupun peralihan pemerintahan wulea lipu dijabat pada para marsaoleh di dalam distrik, tetapi kekuasaan raja masih berpengaruh kuat dalam pemerintahan pribumi secara umum. Raja masih mendapat legitimasi dari rakyat dengan dukungan dari para pembesar kerajaan. Iskandar Monoarfa adalah raja yang memerintah kerajaan Gorontalo setelah raja Botutihe. Selama pemerintahannya Iskandar Monoarfa menentang kontrak-kontrak yang dilakukan oleh Kompeni. Karena sikapnya yang demikian maka pada tahun 1758 Ia ditangkap dan ditahan oleh Gubernur Maluku Abraham Abeleven di Ternate. Secara otomatis jabatannya sebagai raja harus dicopot. Akan tetapi setelah kedudukan Abraham digantikan oleh Jacob van Schoonderwoert sebagai Gubernur Iskandar Monoarfa dikembalikan ke jabatan sebelumnya. Selain Iskandar Monoarfa ada juga raja Walangadi II selaku raja di Gorontalo Utara. "Datangnya Gubernur Paulus Jacob Valckenaer pada tahun 1776 diadakan kontrak baru dengan kedua raja tersebut. Isi dari kontrak tersebut adalah kedua raja Gorontalo harus menjamin pemasukan emas yang bernilai dua ratus ribu ringgit selama lima tahun. Kedua raja tersebut harus menindaki kepala-kepala negeri yang alpa memasukan emas pada waktunya dan harus mencegah pelayaran gelap di Teluk Tomini. Iskandar Monoarfa tidak melaksanakan kontrak tersebut malahan bersikap melawan. Akhirnya pada tahun 1777 Ia ditangkap untuk kedua kalinya dan diasingkan ke Ternate. Setelah penangkapan tersebut Iskandar Monoarfa tidak lagi menjadi raja di Gorontalo. "